JAWA BARAT — Alyssa Daguise memutuskan membatasi kemunculan putrinya, Baby Soso, di vlog orang lain setelah wajah sang anak telanjur tersebar luas di media sosial. Keputusan ini diambil usai video yang menampilkan Baby Soso diunggah di kanal YouTube Maia Estianty dan menuai perhatian warganet.
Insiden tersebut membuat Alyssa gerak cepat. Ia meminta bantuan warganet untuk melaporkan jika menemukan akun yang masih menyebarkan wajah putrinya.
"Yang udah info aku soal 'vlog' makasih ya. Tolong kalau ada yang spill kabarin aku huh makasih semua. Aku sedih banget huaaa," tulis Alyssa Daguise dalam unggahannya.
Alyssa dan Al Ghazali sepakat memperketat kemunculan Baby Soso di media sosial. Model 28 tahun itu tidak ingin wajah anaknya kembali tersebar tanpa kendali, terutama di kanal YouTube milik orang lain.
Keputusan ini menyoroti persoalan yang kerap dihadapi orang tua di era digital: jejak digital anak bisa terbentuk bahkan sebelum mereka bisa memilih. Satu kali wajah tampil di video publik, rekamannya bisa disalin, diunggah ulang, dan sulit ditarik kembali.
Anak-anak belum bisa memberi izin atas foto atau video yang menampilkan mereka. Ketika orang dewasa di sekitarnya mengunggah tanpa persetujuan orang tua, kendali atas privasi anak berpindah ke tangan orang lain.
Beberapa risikonya cukup nyata. Foto anak bisa disalahgunakan, dijadikan bahan komentar tidak pantas, atau tersimpan permanen di internet. Untuk anak dari keluarga publik seperti Baby Soso, risikonya berlipat karena perhatian warganet jauh lebih besar.
Kalau wajah anak tersebar dan digunakan untuk hal yang merugikan, orang tua bisa meminta platform menghapus konten tersebut melalui fitur pelaporan. Untuk kasus yang mengarah pada pemerasan atau pelecehan, langkah hukum jadi pilihan yang perlu dipertimbangkan.
Kasus Baby Soso jadi pengingat bahwa batas privasi anak bukan sekadar soal privasi orang tua. Anak berhak atas ruang aman untuk tumbuh tanpa bayang-bayang rekaman yang beredar bebas di internet.