BANDUNG — Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut tantangan kota ke depan tidak hanya menyangkut pembangunan fisik, tetapi juga lingkungan yang bersih dan sehat serta tata kelola pemerintahan yang modern dan mudah diakses masyarakat. Dua fondasi itu, katanya, menjadi bagian dari visi Bandung yang unggul, terbuka, amanah, maju, dan agamis.
Farhan menilai persoalan sampah masih menjadi tantangan besar bagi Kota Bandung. Penyelesaiannya, menurut dia, harus dimulai dari sumbernya, terutama rumah tangga dan lingkungan masyarakat.
“Tantangan pertama adalah ekologi dan lingkungan. Penanganan sampah masih merupakan tantangan yang besar bagi kita semuanya,” ujar Farhan.
Pemkot Bandung lantas memperkuat program pengelolaan sampah berbasis kewilayahan. Salah satu yang terus didorong adalah Gerakan Bandung Selatan Mengolah Sampah Mandiri (Gaslah), yang mengajak warga mengolah sampah sejak dari sumbernya.
Dengan begitu, volume sampah yang masuk ke sistem pengangkutan maupun tempat pengolahan akhir bisa ditekan. Penguatan program itu dilakukan lewat penyediaan sarana pengolahan sampah organik di berbagai wilayah kota.
Farhan menyebut program Gaslah akan disusul penyediaan kompos di seluruh RT di Kota Bandung. Jumlahnya hampir mendekati 10.000 titik.
“Program Gaslah akan disusul dengan penyediaan kompos di seluruh RT di Kota Bandung sebanyak hampir mendekati 10.000 titik,” kata Farhan.
Pengolahan sampah dari tingkat lingkungan dinilai menjadi bagian penting dalam membangun sistem persampahan yang lebih kuat. Sampah diharapkan ditangani sejak dari hulu sebelum masuk ke proses pengangkutan dan pengolahan akhir.
Selain mengandalkan partisipasi masyarakat, Pemkot Bandung membuka ruang bagi pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan sampah. Teknologi yang dimaksud mencakup pengolahan sampah organik, teknologi termal, hingga pengembangan Solid Recovered Fuel (SRF) bersama pemerintah pusat.
Bertepatan dengan HJKB ke-216, Pemkot Bandung menghadirkan aplikasi Halo Bandung sebagai super app yang mengintegrasikan berbagai layanan publik dalam satu platform.
“Melalui aplikasi ini kita dapat mengakses berbagai informasi dan layanan untuk warga Kota Bandung dalam satu platform,” ujar Farhan.
Halo Bandung dirancang menyederhanakan akses masyarakat terhadap layanan pemerintah. Warga tidak perlu berpindah-pindah platform ketika membutuhkan informasi maupun layanan publik.
Digitalisasi pelayanan disebut menjadi bagian dari upaya membangun tata kelola pemerintahan yang lebih cepat, transparan, dan akuntabel.
“Halo Bandung adalah upaya untuk membangun pemerintahan yang responsif, terbuka, accountable dan transparan,” katanya.
Farhan berharap pembenahan lingkungan dan transformasi digital berjalan melalui kolaborasi seluruh elemen kota. Mulai dari pemerintah, masyarakat, komunitas, akademisi, hingga dunia usaha.
“Solidarity in Harmony harus menjadi semangat bersama untuk menjaga, merawat, dan membangun Kota Bandung,” tutur Farhan.