JAWA BARAT — Menurut laporan Reuters, ambang batas yang diusulkan setara dengan delapan persen dari total pendaftaran kendaraan tahunan di Eropa. Selama impor China belum melewati angka itu, tarif tetap nol. Begitu terlampaui, tarif 80 persen langsung berlaku.
Yang menarik, usulan ini tidak hanya menyasar kendaraan utuh. Komponen kendaraan juga masuk dalam cakupan, dan ini justru bagian yang paling berdampak.
Vavassori menyebut komponen menyumbang sekitar 80 persen dari total nilai sebuah kendaraan. Artinya, membatasi impor komponen China sama dengan menekan biaya produksi mobil Eropa secara langsung.
Industri otomotif Italia punya sejarah panjang sebagai pemasok komponen untuk merek-merek besar Eropa. Ketika merek China masuk dengan harga agresif dan rantai pasok sendiri, posisi pemasok lokal jadi terancam.
Vavassori tidak menyembunyikan kekhawatirannya. Dalam pernyataannya, ia mengakui kualitas industri China, tetapi mengubah nada bicaranya menjadi peringatan.
"Kami sangat menghargai pencapaian industri China. Namun, rasa hormat itu kini berubah menjadi kekhawatiran," ujarnya.
Kalimat itu menggambarkan posisi sulit Eropa: mengakui kompetitor China berkualitas, tapi tidak siap bersaing di harga.
Kekhawatiran Anfia bukan tanpa dasar. Pangsa pasar merek China di Eropa terus menguat, terutama di segmen mobil listrik dan kendaraan entry-level yang selama ini dikuasai merek Eropa dan Jepang.
Data registrasi kendaraan tahunan Eropa jadi acuan utama dalam usulan ini. Jika impor China sudah mendekati delapan persen, artinya penetrasi mereka sudah cukup dalam untuk mengubah peta persaingan.
Yang perlu dicatat, usulan ini masih sebatas dorongan dari asosiasi industri. Keputusan akhir ada di tangan Uni Eropa, dan prosesnya biasanya panjang karena harus melewati kajian dampak dan negosiasi antarnegara anggota.
Jika skema ini benar-benar diterapkan, dampaknya tidak berhenti di Eropa. Rantai pasok otomotif global saling terhubung, dan produsen China yang selama ini ekspansif di pasar luar negeri kemungkinan akan menyesuaikan strategi, termasuk mengalihkan fokus ke pasar Asia Tenggara seperti Indonesia.