Festival Venice 2024: Film Esai 426 Menit soal Bertolucci, Karya Terpanjang Luca Guadagnino

Penulis: Yanuar Fahrezi  •  Rabu, 09 September 2026 | 19:34:31 WIB
Luca Guadagnino mempersembahkan film esai dokumenter berdurasi 426 menit tentang Bernardo Bertolucci di Venice Film Festival 2024.

JAWA BARAT — Venice Film Festival 2024 menghadirkan sebuah karya yang tidak biasa. Luca Guadagnino, sutradara 'Call Me by Your Name', membuat film esai dokumenter berjudul 'Joie de Vivre. Notes, Thoughts, Words, Reflections, Faces, And Visions Concerning Bernardo Bertolucci And The Cinephilia Of The 20th Century That No Longer Exists' sebagai persembahan untuk Bernardo Bertolucci (1941-2018). Dengan durasi mencapai 426 menit, film ini menjadi salah satu karya terpanjang yang pernah diputar di festival bergengsi tersebut.

Lebih dari Sekadar Film Biografi

Guadagnino tidak membuat film biografi konvensional. Ia justru mengajak penonton menjelajahi rumah mendiang Bertolucci di Roma, tepatnya di Via della Lungara, 3. Rumah itu masih utuh seperti saat terakhir ditinggalkan oleh Bertolucci dan istrinya, Clare Peploe, yang wafat pada musim panas 2021. Suasana rumah tersebut seakan masih hidup dengan kehadiran sang maestro.

Dari awal, Guadagnino blak-blakan mengaku beberapa judul film Bertolucci terlalu buruk untuk dibahas. Ia mencoret 'Besieged', 'Little Buddha', dan 'Stealing Beauty' dari daftar. Pernyataan ini menjadi hiburan tersendiri bagi penonton yang familier dengan filmografi Bertolucci.

Wawancara Eksklusif dengan Martin Scorsese dan Sineas Dunia

Guadagnino mengajak banyak rekan sesama sineas untuk membahas karya-karya awal Bertolucci. Martin Scorsese menjadi bintang tamu utama saat membahas film 'Before the Revolution' (1964), film pertama yang menempatkan Bertolucci di peta perfilman Italia. Scorsese mengaku telah menonton film tersebut di New York Film Festival dan langsung terpikat.

"Suara baru telah tiba. Dan saya ada di sana," ujar Scorsese dalam film tersebut. Deretan sineas lain yang turut diwawancarai antara lain Catherine Breillat, Alfonso Cuarón, David Cronenberg, Abderrahmane Sissako, dan James Gray. Para kritikus film seperti Jay Weissberg, Scott Foundas, dan Armond White juga diajak berdiskusi.

Membedah Kontroversi 'Last Tango in Paris'

Bagian paling menarik dari film ini adalah diskusi panjang tentang 'Last Tango in Paris' (1972). Film yang membuat Bertolucci hampir dipenjara ini menjadi pusat perdebatan tentang politik seksual yang dulu dianggap liberal namun kini dipandang berbeda. Guadagnino dengan cerdas mengajukan pertanyaan: apakah dunia yang berubah atau kita yang berubah?

Ia juga membela Bertolucci dari tuduhan bahwa adegan mentega yang terkenal dalam film tersebut dilakukan tanpa sepengetahuan aktris Maria Schneider. Meski demikian, film ini tetap memunculkan diskusi menarik tentang ketidakseimbangan kekuasaan di lokasi syuting.

Karya Monumental dan Film yang Terlupakan

Babak kedua film esai ini dibuka dengan pembahasan tentang '1900' (1976), film epik yang mempertemukan Robert de Niro dan Gerard Depardieu untuk pertama kalinya. Aktris Margot Robbie yang menjadi bintang tamu menyebut adegan kokain dalam film tersebut sebagai "adegan kokain terhebat yang pernah ada".

Guadagnino juga menyoroti 'La Luna' (1976), film kontroversial tentang hubungan incest seorang ibu dan anaknya yang kecanduan heroin. Film ini kini hampir mustahil untuk ditonton. Namun, ia menghabiskan terlalu banyak waktu untuk membahas 'Me and You' (2012), film terakhir Bertolucci yang dinilai tidak menarik. Sementara itu, 'The Dreamers' (2003) sama sekali tidak mendapat tempat dalam dokumenter ini.

Elegi untuk Sinema yang Telah Hilang

Guadagnino mengakhiri filmnya dengan nada melankolis. "Sinema tempat saya tumbuh sudah tiada," ujarnya. Pernyataan ini menjadi refleksi pribadi tentang perubahan lanskap industri film yang ia rasakan. Meski berdurasi sangat panjang, 'Joie de Vivre' berhasil menjadi perjalanan sinematik yang intim dan personal, jauh dari sekadar penghormatan formal kepada seorang maestro.

Reporter: Yanuar Fahrezi
Sumber: deadline.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top