JAWA BARAT — Presiden Prabowo Subianto menyampaikan capaian tersebut dalam pidato kenegaraan, sembari menegaskan bahwa momentum pertumbuhan nasional tetap terjaga di tengah fragmentasi perdagangan dan fluktuasi harga komoditas dunia. Secara kumulatif, ekonomi Indonesia pada semester I-2026 tumbuh sekitar 5,45%.
Angka ini menjadi sinyal positif bagi pasar, namun pemerintah mengingatkan bahwa statistik pertumbuhan tidak boleh berhenti sebagai catatan administratif. Pertanyaan kuncinya adalah sejauh mana angka tersebut mentransmisikan kesejahteraan ke tingkat rumah tangga.
Kepala negara menekankan bahwa laju ekspansi harus dikonversikan menjadi lapangan kerja, pendapatan riil masyarakat, serta perbaikan daya beli. Tanpa itu, pertumbuhan dianggap belum berkualitas dan inklusif.
"Pertumbuhan harus dikonversikan menjadi pekerjaan, pendapatan, peningkatan daya beli, kesempatan berusaha, pelayanan publik yang lebih baik, dan penurunan kemiskinan," ujar Presiden dalam pidatonya.
Pernyataan ini relevan bagi pelaku usaha. Arah kebijakan ke depan dipastikan akan fokus pada sektor padat karya dan penguatan industri pengolahan, bukan sekadar mendorong konsumsi.
Di sektor riil, pemerintah mengklaim telah mencapai swasembada pada delapan komoditas strategis: beras, jagung, cabai besar, cabai rawit, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah.
Cadangan Beras Pemerintah (CBP) bahkan telah menembus level 5 juta ton—tertinggi dalam sejarah pengelolaan stok nasional. Bagi investor, ketahanan pangan ini secara langsung meredam risiko inflasi volatil yang kerap menggerus daya beli masyarakat kelas menengah bawah.
Pemerintah menegaskan peningkatan output pertanian tidak boleh mengorbankan kesejahteraan produsen. Indikator Nilai Tukar Petani (NTP) menjadi alat ukur utama yang dijaga ketat.
Kebijakan pendukung mencakup ketersediaan pupuk bersubsidi tepat sasaran, perluasan irigasi, mekanisasi alat mesin pertanian (alsintan), hingga kepastian harga di tingkat petani. Pemerintah juga mendorong pembangunan industri pengolahan di sentra produksi agar nilai tambah tidak lari ke luar daerah.
Filosofinya sederhana: swasembada harus membuat negara kuat sekaligus petani sejahtera. Jika berhasil, sektor ini akan menjadi pintu masuk transformasi ekonomi pedesaan dan memperkuat fundamental ekonomi domestik menghadapi gejolak eksternal.