Erupsi Anak Krakatau dan Karhutla Landa Garut, Bupati dan Kapolres Wajibkan Masker N95 untuk ASN dan Warga

Penulis: Uki Damayanti  •  Senin, 07 September 2026 | 15:31:02 WIB
Abu vulkanik erupsi Anak Krakatau dan asap karhutla menurunkan kualitas udara di Garut, warga diwajibkan memakai masker N95.

GARUT — Kualitas udara di Kabupaten Garut kian memburuk akibat kombinasi abu vulkanik dan asap kebakaran lahan. Pemerintah daerah menilai situasi ini tidak bisa dianggap remeh, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru kronis.

Bupati Garut Abdusy Syakur Amin menyebutkan dua sumber pencemaran itu datang bersamaan. Selain partikel halus dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang terbawa angin, titik api karhutla juga meningkat di sejumlah vegetasi kering. Ia mengingatkan jajaran ASN agar tidak ragu memakai alat pelindung diri di tengah aktivitas pelayanan publik.

"Sekiranya ada hal-hal yang dianggap perlu, jangan ragu-ragu memakai masker. Yang pasti kita harus tetap jaga kesehatan," ujar Syakur saat memimpin apel gabungan, Senin (7/9/2026).

Pemicu Karhutla: Puntung Rokok dan Dahan Kering

Data Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Garut mencatat grafik kejadian karhutla meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Bupati menuding faktor manusia, terutama pembuangan puntung rokok sembarangan, menjadi pemicu utama meluasnya api di area hutan dan lahan kering.

"Kebakaran hutan lahan ada mungkin karena dahan kering, atau orang buang rokok sembarangan. Saya tidak bosan-bosannya mengingatkan, yuk jaga lingkungan kita," kata Syakur menegaskan.

Polres Garut Wajibkan Masker Standar N95 dan KN95

Merespons kondisi darurat partikel abu, Kepolisian Resor Garut mengeluarkan imbauan keselamatan yang lebih ketat. Kapolres Garut AKBP Niko N. Adi Putra meminta warga memangkas durasi aktivitas di luar ruangan dan mewajibkan penggunaan alat pelindung pernapasan berstandar tinggi.

"Penggunaan masker yang tepat seperti N95 atau KN95 sangat dianjurkan untuk membantu mengurangi paparan partikel abu vulkanik," tutur Niko.

Partikel halus abu vulkanik disebut berisiko tinggi memicu iritasi mata, kulit, hingga gangguan paru akut. Polisi mengimbau warga mengenakan kacamata pelindung dan segera membilas tubuh setelah beraktivitas di luar rumah.

Larangan Menyapu Debu Kering dan Cara Lindungi Kelompok Rentan

Dalam pembersihan lingkungan pemukiman, warga dilarang menyapu debu dalam kondisi kering karena berpotensi mengembalikan partikel berbahaya ke udara. Metode yang disarankan adalah menggunakan kain atau sapu basah.

"Gunakan sapu atau kain basah. Jaga kondisi tubuh dengan mencukupi air putih, makanan bergizi, dan istirahat cukup," ujar Niko.

Polres Garut menaruh perhatian khusus pada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita gangguan respiratorik kronis. Warga yang mengeluhkan batuk persisten atau sesak napas diimbau segera memeriksakan diri ke puskesmas dan rumah sakit terdekat.

Di tengah kepungan krisis lingkungan ini, Pemkab Garut tetap menyelipkan penyerahan penghargaan bagi ASN pemenang lomba peringatan HUT ke-81 RI. Menurut Syakur, menjaga ketahanan fisik ASN menjadi krusial agar pelayanan publik tak lumpuh di tengah ancaman bencana.

Reporter: Uki Damayanti
Sumber: gosipgarut.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top