Telkom Genjot Kabel Laut, Permintaan Konektivitas AI Naik 20 Kali Lipat

Penulis: Wendra Kusuma  •  Rabu, 26 Agustus 2026 | 11:50:31 WIB
Direktur Wholesale & International Service Telkom, Budi Satria Dharma Purba, menyampaikan paparan dalam acara BATIC 2026 di Nusa Dua, Bali, Rabu (26/8).

JAWA BARAT — Lonjakan penggunaan AI tidak hanya mengubah cara manusia bekerja, tetapi juga memicu ledakan kebutuhan infrastruktur digital. PT Telkom Indonesia (TLKM) menangkap sinyal ini dengan mempercepat ekspansi bisnis konektivitas internasional, khususnya lewat pembangunan kabel bawah laut.

Direktur Wholesale & International Service Telkom, Budi Satria Dharma Purba, mengungkapkan bahwa pertumbuhan bisnis konektivitas di anak usaha Telin saat ini sudah menembus angka 20 persen secara tahunan. Namun, potensi dari AI disebut jauh lebih besar dari sekadar pertumbuhan organik tersebut.

"Dalam tiga tahun terakhir, kita melihat banyak pendorong besar yang berasal dari AI. Jadi, ketika kita berbicara tentang permintaan dari AI, kita tidak berbicara tentang pertumbuhan 50 persen atau 70 persen. Namun, kita berbicara tentang peningkatan permintaan 10 hingga 20 kali lipat yang dihasilkan oleh AI," kata Budi dalam acara BATIC 2026 di Nusa Dua, Bali, Rabu (26/8).

Kapasitas Kabel Baru Langsung Habis dalam Setahun

Permintaan yang meledak ini membuat industri kewalahan mengejar pembangunan infrastruktur. Budi mencontohkan proyek kabel laut yang menghubungkan Singapura hingga Amerika Serikat melalui perairan Indonesia. Proyek tersebut memakan waktu lima tahun untuk dibangun, namun kapasitasnya langsung terserap habis dalam waktu kurang dari satu tahun setelah beroperasi.

"Untuk membangun kabel itu butuh waktu lima tahun, tapi ini kurang dari satu tahun, kapasitasnya sudah habis," ujarnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pertumbuhan permintaan konektivitas saat ini berjalan jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan industri dalam menyediakan infrastruktur. Kondisi ini menjadi sinyal kuat bagi Telkom untuk terus berinvestasi di koridor global lainnya.

Bukan Sekadar Menghubungkan Informasi

Budi menjelaskan, ada tiga perubahan besar yang mendorong kebutuhan konektivitas saat ini: AI, cloud, dan platform digital. AI mengubah cara orang bekerja, cloud mengubah cara perusahaan mengembangkan bisnis, dan platform digital mengubah perilaku pelanggan. Ketiganya bermuara pada kebutuhan jaringan yang lebih masif.

Namun, kebutuhan konektivitas di era AI tidak bisa disamakan dengan era sebelumnya. Trafik yang dihasilkan AI cenderung lebih besar, tersebar, dan dinamis, sehingga tidak lagi dapat dilayani oleh jaringan konvensional.

"Karena memang typical traffic yang dibentuk AI itu pasti akan semakin massif, terdistribusi dan dinamis. Itu tidak bisa dilayani dengan typical network kita yang ada saat ini. Sehingga banyak yang harus kita evolusi di network kita," jelas Budi.

Pergeseran ini membuat fungsi jaringan ikut berubah. Jaringan tidak lagi sekadar menghubungkan informasi, tetapi juga menghubungkan komputasi dan kecerdasan. Telkom melihat peluang besar dari perubahan ini dan berkomitmen melanjutkan investasi di infrastruktur kabel laut untuk memenuhi permintaan yang terus bertumbuh.

Langkah ini menjadi krusial mengingat Indonesia berada di posisi strategis sebagai jalur lalu lintas data internasional. Dengan memperkuat infrastruktur bawah laut, Telkom tidak hanya mengamankan posisi di pasar domestik, tetapi juga menangkap pangsa pasar konektivitas global yang tengah berkembang pesat.

Reporter: Wendra Kusuma
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top