BANDUNG — Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw di Jawa Barat tahun ini kembali mengemuka sebagai pengingat atas kelahiran sosok dengan kepribadian agung. Lebih dari itu, perayaan ini menjadi sarana untuk membangkitkan kembali rasa cinta umat kepada Rasulullah, sosok yang riwayat hidupnya tercatat paling lengkap dibandingkan tokoh mana pun dalam sejarah peradaban manusia.
Idat Mustari, penulis buku sekaligus Komisaris di BUMD Kabupaten Bandung, menegaskan bahwa tidak akan pernah ditemukan biografi seorang tokoh dunia yang di dalamnya tercatat hal-hal bersifat privasi seperti cara tidur, cara makan, hingga cara bersisir, kecuali dalam biografi Rasulullah Saw. Hal ini menunjukkan betapa lengkapnya jejak kehidupan Nabi terdokumentasi.
Shalawat sebagai Wujud Cinta yang Mengakar di Masyarakat
Melalui peringatan maulid, perasaan cinta kepada Rasulullah kembali dibangkitkan dengan memperbanyak menyebut namanya. Seorang pecinta, menurut Idat, akan selalu menyebut-nyebut nama yang dicintainya. Hati pun berdebar ketika mendengar nama kekasih dipanggil, meskipun kebetulan yang memanggil sedang menunjuk orang lain dengan nama yang sama.
Kecintaan ini terwujud dalam berbagai tradisi yang mengakar di masyarakat Jawa Barat. Umat diajarkan untuk senantiasa bershalawat, menyambut kelahiran anak dengan pembacaan marhaban yang sarat shalawat, hingga membacakan tahlilan yang di dalamnya juga terdapat bacaan shalawat saat ada warga yang meninggal dunia.
Mengapa Perayaan Ini Masih Sering Diperdebatkan?
Idat menyayangkan masih adanya sebagian kalangan yang melarang tradisi ini dengan menyebutnya sebagai bid'ah. Menurutnya, perdebatan semacam itu sebaiknya tidak perlu diperpanjang apalagi sampai melarang orang lain melaksanakannya. "Biarlah orang melaksanakannya karena rasa cintanya pada Rasulullah Saw," ujarnya.
Ia menekankan bahwa secara fitrah, seorang muslim sangat mencintai Nabi. Boleh jadi seorang muslim jarang melaksanakan ibadah shalat atau puasa, tetapi jangan coba-coba ada yang menghina Nabi Muhammad Saw. Hal ini sejalan dengan pernyataan cendekiawan Wilfred Cantwell Smith yang menegaskan bahwa kaum Muslim masih dapat membiarkan serangan terhadap Allah, tetapi penghinaan terhadap Muhammad akan menyulut fanatisme yang menyala-nyala, bahkan dari kalangan liberal sekalipun.
Menjaga Kehormatan Nabi di Tengah Arus Modernitas
Peringatan maulid di tengah kehidupan modern ini menjadi pengingat pentingnya menjaga kehormatan Nabi. Seorang kekasih pasti akan marah ketika kekasihnya diganggu atau dihinakan orang lain. Prinsip inilah yang menjadi fondasi bagaimana umat Islam di Jawa Barat dan Indonesia pada umumnya merespons setiap upaya pelecehan terhadap sosok Rasulullah.
Melalui peringatan yang digelar di masjid-masjid, pesantren, hingga perkantoran di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Barat, nilai-nilai kecintaan kepada Nabi terus ditanamkan kepada generasi muda. Tradisi ini menjadi benteng moral sekaligus pengikat identitas keislaman yang kuat di tengah derasnya arus perubahan zaman.