JAKARTA — Penghargaan tersebut mengapresiasi konsistensi BRI dalam menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) melalui inovasi pendanaan. Pada 2026, BRI kembali menerbitkan Social Bond senilai Rp 5 triliun untuk mendanai proyek sosial yang menyasar masyarakat prasejahtera, perempuan, dan kelompok rentan lainnya.
Direktur Legal and Compliance BRI, Mahdi Yusuf, menyatakan penerbitan obligasi sosial secara berkelanjutan merupakan wujud komitmen perseroan memperkuat pendanaan yang berorientasi dampak sosial.
"Melalui Social Bond, BRI memperluas akses layanan keuangan, memperkuat usaha masyarakat, dan mendukung penciptaan lapangan kerja. Penghargaan ini semakin menguatkan komitmen kami untuk memastikan setiap instrumen pendanaan berkelanjutan dapat menghasilkan manfaat yang nyata, terukur, dan tepat sasaran," ungkap Mahdi dalam keterangan resmi yang diterima redaksi.
Laporan dampak Social Bond 2025 menunjukkan pembiayaan mikro melalui KUPEDES berkontribusi terhadap penciptaan 59.091 lapangan kerja pada segmen UMKM. Selain itu, instrumen ini juga meningkatkan akses usaha bagi 23.422 nasabah.
Capaian tersebut turut mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG), khususnya SDG 1 Tanpa Kemiskinan, SDG 2 Tanpa Kelaparan, dan SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Social Bond BRI tercatat memperoleh peringkat idAAA (Triple A) dari PEFINDO. Minat investor terhadap instrumen ini juga tinggi, tercermin dari permintaan yang mencapai 1,31 kali dari target penerbitan.
Kerangka Social Finance Framework BRI mengacu pada Social Bond Principles dari ICMA, Social Loan Principles, serta POJK Nomor 51/POJK.03/2017 dan POJK Nomor 18 Tahun 2023.
CEO IDX Channel, Syafril Nasution, mengatakan ajang ini diharapkan menjadi pemicu bagi lebih banyak korporasi untuk memperkuat komitmen terhadap keberlanjutan, transparansi, dan tata kelola.
"Kami berharap penghargaan ini tidak hanya menjadi bentuk apresiasi, tetapi juga menjadi pemicu bagi semakin banyak perusahaan untuk memperkuat komitmen terhadap keberlanjutan, transparansi, tata kelola, dan inovasi," kata Syafril.
Penilaian penghargaan tahun ini melibatkan lima aspek, yakni strategy and policy, leadership commitment, ESG performance, stakeholder participation, serta ESG reporting. Sebanyak 30 perusahaan dari 11 sektor usaha menerima penghargaan dalam ajang bertema "Beyond Compliance: Leveraging ESG to Create Long-Term Corporate Value" tersebut.