Pidi Baiq Terkejut Film Dan Bandung Disutradarai Rudi Soedjarwo, Akui Hasilnya di Luar Ekspektasi

Penulis: Valdi Pratama  •  Minggu, 16 Agustus 2026 | 13:41:01 WIB
Pidi Baiq menyampaikan keterkejutannya atas penunjukan Rudi Soedjarwo sebagai sutradara film Dan Bandung dalam gala premiere di XXI Ciwalk Bandung, Sabtu (16/8/2026).

BANDUNG — Rasa percaya Pidi Baiq kepada Rudi Soedjarwo ternyata tidak sia-sia. Penulis asal Bandung itu mengaku sempat terkejut ketika mendengar nama sutradara AADC tersebut akan menggarap film Dan Bandung, namun hasilnya justru membuatnya merasa "tidak ada apa-apanya" sebagai penulis naskah.

"Saat ketemu sama Ibu Titien itu kan naskah fix sudah mau difilmkan. Tinggal siapa sutradaranya? Tau-tau kok muncul kata Rudi Soedjarwo," kata Pidi saat menghadiri gala premiere di XXI Ciwalk Bandung, Sabtu (16/8/2026).

Kepercayaan itu diberikan tanpa banyak syarat. Pidi mengaku tidak memberikan batasan apa pun kepada Rudi dalam proses kreatif, sebuah keputusan yang ia ambil karena rekam jejak sang sutradara di genre drama romantis.

"Udah terserah Mas Rudi aja. Saking saya percaya karena ia pernah berkarya yang bagus," tuturnya.

Kekhawatiran di Balik Lagu dan Akting Para Pemain

Meski percaya, Pidi sempat diliputi rasa cemas ketika mengetahui lagu-lagu miliknya akan dicantumkan dalam film. Ia khawatir kehadiran musik tersebut justru mengganggu alur cerita dan kenyamanan penonton.

"Awalnya saya pas denger-denger lagu-lagu saya mau dicantumin di film, aduh nggak enak gini nanti. Takut ngedistract gitu ya, takut ngganggu kuping gitu," ujarnya.

Kekhawatiran itu menguap setelah menonton hasil akhirnya. Pidi menilai Rudi memiliki cara tersendiri dalam meramu lagu-lagunya agar tidak terkesan terlalu manis. Ia bahkan langsung terpikir untuk mengajak sejumlah pemain Dan Bandung terlibat dalam karya berikutnya.

"Terus saya terkejut semua dengan akting-aktingnya. Tadi saya langsung bisikin dia, 'Nanti main di film saya'," ungkapnya.

Rudi Soedjarwo: Karya Pidi Baiq Tak Boleh Dihancurkan

Rudi Soedjarwo mengungkapkan alasannya menerima tawaran menggarap Dan Bandung. Baginya, proyek ini adalah kesempatan langka untuk kembali membuat film bertema cinta seperti yang pernah ia kerjakan pada 2002 silam.

"Ketika aku ditawarkan film Dan Bandung, sebenarnya gini, aku berkembang dan tumbuh dari film cinta kan dulu, Ada Apa dengan Cinta. Dan kesempatan untuk bikin seperti itu lagi tidak pernah datang ke saya selama bertahun-tahun," kata Rudi.

Di usianya yang kini 55 tahun, Rudi mengaku penasaran bagaimana cara pandangnya terhadap cinta dan karakter akan berubah dibanding saat menggarap AADC. Ia merasa pengalaman hidupnya yang lebih panjang membuat perspektifnya lebih matang.

"Menurut saya sekarang, saya merasa lebih lengkap sebagai manusia karena sudah mengalami banyak hal dibanding tahun 2002. Jadi saya merasa kayanya aku bisa bikin lebih tajam deh yang ini dibanding yang itu," katanya.

Dalam proses penggarapan, Rudi dan tim berpegang pada satu prinsip penting: menjaga kualitas karya Pidi Baiq. Ia menegaskan tidak ingin merusak karya seorang seniman.

"Aku dalam hati dan tim juga waktu itu pernah berjanji, kalau mau bikin filmnya Pidi, jangan sampai kita lebih jelek. Itu patokan saya. Kenapa? Karena dia seniman juga. Karyanya jangan dihancurkan. Minimal jangan lebih jelek," ujar Rudi.

Ia juga berterima kasih atas kebebasan kreatif yang diberikan Pidi Baiq dan produser. "Dan aku terima kasih juga dikasih kebebasan oleh Ayah Pidi dan juga dari produser untuk aku bisa mengeluarkan hati saya di sini. Itu yang penting sih," tandasnya.

Reporter: Valdi Pratama
Sumber: koranmandala.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top