JAWA BARAT — Sutradara dokumenter Erin Lee Carr kembali dengan karya terbaru berjudul "The Swan: Behind the Mirror" yang tayang perdana di Hulu. Film ini membedah reality show kontroversial Fox tahun 2004, "The Swan," di mana 16 perempuan menjalani operasi plastik ekstrem, perawatan gigi, diet, dan latihan intensif demi tampil "lebih menarik" di atas panggung kontes kecantikan.
Erin Lee Carr bukan nama baru di jagat dokumenter. Dalam lima tahun terakhir, ia telah menyutradarai sejumlah proyek besar seperti "Britney vs Spears" untuk Netflix, "The Ringleader: The Case of the Bling Ring," "Fanatical: The Catfishing of Tegan and Sara," serial dokumenter "I Am Not a Monster: The Lois Riess Murders," serta serial skrip "Murdaugh: Death in the Family."
Ia juga memproduksi "Stormy," dokumenter tentang Stormy Daniels, "Trophy Wife: Murder on Safari," dan "Perfect Wife: The Mysterious Disappearance of Sherri Papini." Pola karyanya jelas: mengangkat kisah perempuan. Carr mengaku pendekatan itu bukan kebetulan, melainkan buah dari pengalaman traumatisnya dengan kasus "Cannibal Cop" Gilberto Valle, subjek filmnya tahun 2015, "Thought Crimes: The Case of the Cannibal Cop."
Membedah Reality Show Paling Kontroversial
"The Swan: Behind the Mirror" menyoroti serial kompetisi realitas Fox tahun 2004 garapan Nely Galán. Dalam acara itu, 16 perempuan yang dijuluki "ugly ducklings" menjalani transformasi ekstrem lewat operasi plastik, perawatan gigi, pelatihan, diet, dan sedikit terapi. Mereka kemudian berlomba di ajang pageant dengan babak lingerie untuk memperebutkan gelar "The Swan."
Acara ini dianggap salah satu reality show terburuk yang pernah diproduksi. Dokumenter Carr menampilkan testimoni mengejutkan dari belasan mantan kontestan, banyak di antaranya trauma dengan pengalaman tersebut. Produser serial dan salah satu dokter bedah plastiknya juga diwawancarai, dengan penggambaran yang kurang mengenakkan.
Alasan Carr Tertarik Menggarap Proyek Ini
Carr mengaku punya keterkaitan personal dengan tema "The Swan." "Secara pribadi, saya tidak menyukai tubuh saya dan penampilan saya, dan selalu ingin terlihat seperti orang lain," ujarnya kepada Variety. "Tapi dalam banyak hal, 'The Swan' adalah pertanda dari apa yang akan datang."
Carr, 38 tahun, adalah putri kolumnis New York Times mendiang David Carr. Ia harus menyisipkan proyek ini di tengah jadwal padat, di antara sebuah film untuk Netflix yang akan selesai dalam beberapa bulan dan beberapa proyek skrip yang sedang ia kembangkan.
Tantangan Produksi dan Negosiasi dengan Narasumber
Proses pembuatan dokumenter ini tergolong cepat, kurang dari satu tahun. Biasanya Carr butuh 18 bulan untuk menyelesaikan filmnya. "Saya tidak diberi banyak waktu," katanya. Sebagian akses memang sudah beres, termasuk beberapa mantan kontestan yang bersedia terlibat.
Carr menegaskan ia tidak ingin mengulang perlakuan yang dialami para perempuan dalam acara aslinya. "Saya tidak akan melakukan hal yang sama yang terjadi pada perempuan-perempuan ini, di mana mereka dipilih berdasarkan siapa yang ceritanya paling bagus," ujarnya. Ia mewawancarai semua kontestan selama 2-3 jam dan memutuskan alur di meja editing.
Negosiasi dengan dr. Terry Dubrow dan Nely Galán berlangsung alot. Dubrow meminta bayaran mendekati 100.000 dolar AS untuk satu wawancara, angka yang tidak masuk akal untuk seorang pakar dokumenter. Sementara Galán ingin menjadi produser eksekutif, yang tidak bisa dipenuhi. Soal lisensi footage pun tidak tercapai, sehingga Carr menggunakan mekanisme fair use dengan konstruksi yang hati-hati.
Respons Dubrow dan Konteks Industri
Dubrow, yang kini tampil di "The Real Housewives of Orange County," pernah menyebut keluhan para mantan kontestan sebagai "all a bunch of BS." Carr merespons dengan menulis pesan balik kepadanya. "Saya senang mendengar pendapat Anda," tulisnya. Ia menilai Dubrow sebagai pria yang masuk akal dan rasional.
Dokumenter ini hadir di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap dampak psikologis reality show dan standar kecantikan yang dipaksakan. Bagi Carr, "The Swan" adalah cermin dari budaya yang masih relevan hingga kini.