Peneliti Cornell Temukan Koloni Lebah Raksasa Bawah Tanah di Pemakaman New York, Populasi Capai 5,5 Juta Ekor

Penulis: Wendra Kusuma  •  Sabtu, 30 Mei 2026 | 17:06:01 WIB
Koloni lebah penambang Andrena regularis ditemukan di pemakaman New York dengan populasi hingga 5,5 juta ekor.

Hasil riset tim entomologi Universitas Cornell ini berawal dari observasi tak sengaja. Pada musim semi 2022, Rachel Fordyce, teknisi laboratorium di departemen entomologi kampus tersebut, melihat aktivitas serangga yang tidak biasa saat berjalan kaki ke tempat kerjanya. Ia mengumpulkan beberapa spesimen dan menunjukkannya kepada Bryan Danforth, seorang entomolog di universitas yang sama.

Analisis mengonfirmasi bahwa serangga tersebut adalah Andrena regularis, atau yang dikenal sebagai lebah penambang. Berbeda dengan lebah madu yang hidup berkoloni dalam sarang, spesies liar ini bersifat soliter dan membuat sarang dengan menggali terowongan di tanah. Catatan sejarah menunjukkan lebah ini telah menghuni pemakaman yang didirikan pada 1878 itu sejak awal 1900-an.

Metode Sensus dan Temuan Populasi Raksasa

Untuk menghitung ukuran koloni secara akurat, para peneliti memasang 10 perangkap di area pemakaman antara akhir Maret hingga pertengahan Mei 2023. Perangkap berupa jaring kecil ini hanya menutupi kurang dari satu meter persegi tanah dan mengarahkan serangga yang keluar dari tanah ke dalam wadah kaca.

Lebih dari 3.000 serangga dari 16 spesies berhasil diambil sampelnya, termasuk lebah, kumbang, dan lalat. Namun, Andrena regularis mendominasi secara luar biasa. Dari ekstrapolasi kepadatan rata-rata yang ditemukan di perangkap, para peneliti memperkirakan total populasi berkisar antara 3 juta hingga 8 juta, dengan nilai rata-rata 5,5 juta ekor — setara dengan lebih dari 200 sarang lebah madu domestik.

Strategi Kawin dan Siklus Hidup yang Sinkron dengan Musim Semi

Riset ini juga mengungkap data biologis yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Perangkap menunjukkan bahwa lebah jantan muncul dari tanah beberapa hari lebih awal daripada betina saat hari-hari hangat pertama di bulan April. Ini adalah strategi untuk memaksimalkan peluang kawin.

Setelah kawin, lebah betina menggali sarang dan bertelur di sel-sel yang diisi dengan serbuk sari dan nektar. Yang menarik, spesies ini melewati musim dingin dalam tahap dewasa di bawah tanah. Adaptasi ini memungkinkan mereka menjadi aktif sangat awal di musim semi, tepat bertepatan dengan mekarnya pohon apel di kebun-kebun Universitas Cornell di dekatnya.

Pemantauan juga mengungkap dinamika ekologi yang kompleks, seperti parasitisme oleh lebah spesies Nomada imbricata. Lebah parasit ini bertelur di sarang spesies inang, mengorbankan larva asli.

Pelajaran untuk Konservasi: Pemakaman sebagai Benteng Terakhir

Penemuan ini menyoroti kebutuhan mendesak untuk melindungi tempat bersarang lebah liar. Tujuh puluh lima persen dari spesies lebah adalah spesies soliter yang hidup di bawah tanah.

Tempat-tempat seperti pemakaman kota tua menawarkan kondisi ideal: tanah berpasir yang mudah digali, bebas pestisida, dan lingkungan yang tidak mengalami perubahan besar seperti pada pertanian intensif atau pembangunan perumahan. Untuk mencegah populasi sebesar ini hancur secara tidak sengaja akibat proyek betonisasi atau pekerjaan jalan, para penulis studi telah meluncurkan inisiatif sains warga global.

Proyek ini mengundang warga untuk melaporkan keberadaan agregasi lebah bawah tanah di daerah mereka. Tujuannya adalah untuk mensurvei dan melindungi penyerbuk vital ini sebelum fragmentasi habitat mengancam kelangsungan hidup mereka.

Reporter: Wendra Kusuma
Sumber: wired.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top