SUKABUMI — Upacara adat Seren Taun ke-658 yang digelar di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, menjadi puncak tradisi tahunan masyarakat adat Kasepuhan Gelar Alam. Kegiatan ini dihadiri Bupati Sukabumi Asep Japar, Wakil Bupati Andreas, unsur Forkopimda, Forkopimcam, serta ribuan masyarakat dari berbagai wilayah.
Mengusung tema Nyoreang Alam Katukang, Nyawang Alam Nu Bakal Datang, perhelatan adat ini dimaknai sebagai momentum mengenang perjalanan masa lalu sekaligus menatap masa depan tanpa meninggalkan akar budaya. Tradisi yang berlangsung turun-temurun ini tetap dijaga oleh masyarakat adat Kasepuhan Gelar Alam di tengah perubahan zaman.
Rangkaian Prosesi Adat Sarat Makna
Sejumlah prosesi adat ditampilkan dalam perhelatan tahun ini. Rangkaiannya meliputi angkat ampih pare ka leuit, sarasehan bersama Baris Olot Kasepuhan, hingga pertunjukan budaya seperti Dongdang, Dog-dog Lojor, Debus, Lisung, Rengkong, Gondang Buhun, dan Tari Tani.
Setiap prosesi menyimpan pesan tersendiri bagi masyarakat adat. Mulai dari rasa syukur atas hasil panen, penghormatan terhadap alam, ketahanan pangan, hingga hubungan manusia dengan warisan leluhur.
Bupati: Seren Taun Bukti Konsistensi Masyarakat Adat
Bupati Sukabumi Asep Japar menilai bertahannya Seren Taun hingga generasi ke-658 menjadi bukti keteguhan masyarakat adat dalam menjaga warisan budaya. Menurutnya, tradisi ini tidak sekadar pesta budaya, tetapi juga wujud kecintaan terhadap akar sejarah leluhur.
"Pelaksanaan Seren Taun ke-658 ini merupakan bukti konsistensi dan kecintaan masyarakat adat dalam melestarikan budaya," ujarnya.
Kehadiran unsur Forkopimda dan Forkopimcam dalam perhelatan ini menunjukkan dukungan pemerintah daerah terhadap pelestarian tradisi masyarakat adat. Pemerintah Kabupaten Sukabumi turut hadir dalam rangkaian prosesi adat yang berlangsung sejak pagi hingga selesai.
Seren Taun dan Ketahanan Pangan Masyarakat Adat
Prosesi angkat ampih pare ka leuit atau membawa padi ke lumbung menjadi salah satu bagian penting dalam Seren Taun. Prosesi ini menggambarkan siklus pertanian masyarakat adat Kasepuhan yang erat kaitannya dengan ketahanan pangan.
Bagi masyarakat Kasepuhan Gelar Alam, lumbung bukan sekadar tempat penyimpanan hasil panen. Lumbung menjadi simbol kedaulatan pangan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Seren Taun ke-658 di Desa Sirnaresmi menjadi penanda bahwa tradisi leluhur tetap hidup di tengah arus modernisasi. Masyarakat adat Kasepuhan Gelar Alam berkomitmen melanjutkan warisan ini ke generasi berikutnya.