Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Jawa Barat, berharap hujan yang mulai turun dalam beberapa hari terakhir bisa menyelamatkan sawah yang terdampak kekeringan musim kemarau. Berdasarkan laporan terakhir, lahan sawah yang dilanda kekeringan seluas 588,85 hektare dan 176,80 hektare di antaranya sudah mengalami puso atau gagal panen. Kepala Dispertan Garut Ardhy Firdian menyebut sebagian lahan yang sebelumnya terancam kini sudah mulai memasuki masa panen.
GARUT — Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut Ardhy Firdian menyatakan hujan yang turun di sejumlah wilayah dalam beberapa hari terakhir menjadi harapan baru bagi petani yang sawahnya kekeringan. Menurut dia, pasokan air dari hujan membantu memenuhi kebutuhan sawah yang sebelumnya terancam gagal panen.
"Mudah-mudahan ini bisa menjadi penyelamat untuk lahan-lahan kemarin yang mungkin kekurangan air," kata Ardhy kepada wartawan di Garut.
Musim kemarau yang melanda Garut membuat lahan pertanian, terutama sawah, mengering dan mengganggu pertumbuhan padi. Hujan yang mulai turun dinilai bisa memperbaiki kondisi itu.
Sebagian Lahan Terancam Sudah Masuk Masa Panen
Ardhy menyebut sebagian besar lahan yang sebelumnya terancam kekeringan kini sudah mulai memasuki masa panen. Kondisi itu membuat sebagian lahan dinilai sudah terselamatkan.
"Sementara yang kemarin terancam itu sebagian besar sudah mulai masuk panen. Jadi, sebagian sudah mulai ada terselamatkan," ujarnya.
Meski begitu, Dispertan Garut belum bisa memastikan berapa luas lahan yang benar-benar terselamatkan akibat hujan beberapa hari terakhir. Pendataan langsung ke lapangan masih diperlukan untuk menghitung dampaknya.
176,80 Hektare Sawah Sudah Puso
Laporan terakhir Dispertan Garut mencatat lahan sawah yang dilanda kekeringan seluas 588,85 hektare. Dari jumlah itu, sekitar 176,80 hektare sudah berstatus puso.
Ardhy menyatakan belum ada perkembangan baru terkait luasan kekeringan. Sebab, sejak sebulan terakhir pada September, lahan-lahan yang berpotensi kekeringan sudah tidak lagi ditanami.
"Sementara ini kalau untuk kekeringan masih belum ada perkembangan, karena memang sejak satu bulan kemarin terakhir di September itu kan, lahan-lahan yang memang potensi kekeringan sudah tidak ditanami lagi," katanya.
Dispertan Masih Pantau Perkembangan Cuaca
Dispertan Garut belum bisa memastikan apakah hujan akan terus turun dalam beberapa hari ke depan. Pemantauan kondisi lapangan masih berjalan untuk melihat perkembangan cuaca.
"Kita masih memantau perkembangan kondisi di lapangan, karena kita juga belum tahu apakah hujan ini akan terus sampai berapa hari ke depan atau bagaimana, karena itulah kondisinya masih kita pantau," kata Ardhy.
Dengan masuknya musim hujan, Dispertan berharap lahan sawah yang sebelumnya dilanda kekeringan, terutama yang terancam puso, bisa terselamatkan. Petani di Garut pun berpeluang kembali mendapatkan hasil panen.