Populasi Burung Ekek Keling Sunda (Cissa thalassina) di kawasan hutan Jawa Barat diperkirakan hanya tersisa 50 hingga 250 ekor. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Barat mengingatkan satwa endemik ini berada di ambang kepunahan akibat rusaknya habitat dan perburuan ilegal yang masih terus terjadi.
BANDUNG — Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Barat membeberkan fakta mengejutkan soal masa depan Burung Ekek Keling Sunda. Berdasarkan perkiraan lembaga tersebut, populasi burung endemik yang juga dikenal sebagai Ekek Geling Jawa ini kini hanya berkisar antara 50 hingga 250 ekor di sejumlah kantong-kantong hutan tersisa di Jawa Barat.
Angka tersebut dinilai sebagai sinyal bahaya besar. Keberlangsungan hidup burung dengan ciri khas paruh berwarna merah ini sangat bergantung pada luasan hutan yang sehat, ketersediaan pepohonan, serta sumber pakan yang melimpah.
Masih Terpantau di Gunung Salak dan Gede Pangrango
Manager Divisi Pendidikan WALHI Jabar, M. Jefry Rohman, mengatakan burung ini sebenarnya masih bisa dijumpai di alam liar. Namun, menemukannya bukan perkara mudah.
“Kalau di Jawa Barat itu terpantau masih ada beberapa. Cuma sulit kalau kita menjelajah atau observasi, misalnya di Gunung Salak dan Gunung Gede Pangrango. Masih terkadang kita bisa melihat, cuma karena jumlahnya terbatas maka interaksinya susah,” ujar Jefry kepada ANTARA di Bandung, Rabu.
Jumlah yang sedikit membuat interaksi dan pengamatan terhadap satwa ini menjadi sangat sulit dilakukan. Kondisi ini berbanding terbalik dengan statusnya sebagai salah satu kekayaan fauna khas Tanah Sunda.
Deforestasi Pangkas Ruang Hidup Satwa Endemik
Jefry menilai persoalan deforestasi dan kerusakan lingkungan menjadi ancaman paling serius. Tekanan terhadap lahan di Jawa Barat tidak hanya menghilangkan tempat tinggal satwa, tetapi juga merusak rantai ekosistem secara keseluruhan.
“Jadi bukan hanya masalah dunia hewan, abiotik maupun biotik. Semuanya saling berhubungan. Ketika ruang hidupnya terganggu, mau tidak mau berimbas juga pada keberadaan hewan,” katanya.
Ia menegaskan, ketika pepohonan sebagai sumber pakan dan tempat berlindung sudah tidak ada, mustahil bagi burung ini untuk bertahan hidup. “Kalau wilayahnya kritis, sudah tidak ada pepohonan, sudah tidak ada tempat untuk mencari makan, ya mau di mana lagi?” ujarnya.
WALHI Dorong Ekek Keling Sunda Jadi Maskot Daerah
Untuk meningkatkan kepedulian publik, WALHI Jabar mendorong pemerintah menjadikan Burung Ekek Keling Sunda sebagai ikon atau maskot daerah. Langkah ini dinilai strategis untuk membangun kesadaran masyarakat luas.
“Ini tentu bisa lebih luas berdampak pada situasi dan kondisi lingkungan, termasuk keberadaan hewan ini,” kata Jefry.
Pengenalan satwa endemik sebagai identitas daerah diharapkan mampu menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab kolektif untuk menjaga habitatnya. Tanpa upaya konservasi yang serius dan keterlibatan semua pihak, keberadaan burung berparuh gincu ini di alam liar tinggal menunggu waktu.