Pencarian

Riset Ungkap Telur Aedes Aegypti Tahan Kering Berbulan-bulan saat Kemarau

Kamis, 20 Agustus 2026 • 13:48:01 WIB
Riset Ungkap Telur Aedes Aegypti Tahan Kering Berbulan-bulan saat Kemarau
Telur Aedes aegypti mampu bertahan hidup hingga berbulan-bulan tanpa air saat musim kemarau, menurut riset yang dipublikasikan dalam Journal of Vector Ecology.

JAWA BARAT — Musim kemarau kerap dianggap sebagai periode menurunnya populasi nyamuk karena siklus reproduksinya bergantung pada genangan air. Namun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat fakta berbeda: telur Aedes aegypti memiliki daya tahan luar biasa terhadap kekeringan dan mampu hidup selama berbulan-bulan tanpa air.

Telur nyamuk ini tidak langsung mati ketika air mengering. Mereka menempel di dinding ember, bak mandi, pot, atau wadah lainnya dan menetas begitu bersentuhan dengan air kembali.

Kelangsungan Hidup di Atas 88% hingga 56 Hari

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Vector Ecology menguji telur Aedes aegypti dalam tiga kondisi kekeringan berbeda. Hasilnya, tingkat kelangsungan hidup telur masih berada di atas 88% pada semua kondisi hingga hari ke-56.

Bahkan setelah satu tahun, sekitar 2-15% telur yang diuji masih hidup dan berpotensi menetas.

Mekanisme Metabolisme Embrio saat Kekeringan

Studi di PLOS Biology pada 2023 mengungkap mekanisme di balik ketahanan ini. Saat menghadapi kekeringan, embrio Aedes aegypti mengalami perubahan metabolisme, termasuk pemanfaatan lipid, yang membantu telur bertahan ketika kehilangan air.

Temuan ini menjelaskan secara biologis bagaimana siklus hidup nyamuk tidak terputus oleh musim kemarau.

Nyamuk Perkotaan Justru Meningkat saat Temperatur Naik

Penelitian tersebut juga menemukan korelasi menarik: keberadaan Aedes aegypti pada wadah meningkat seiring meningkatnya temperatur rata-rata dan panjangnya musim kering. Sebaliknya, Aedes albopictus cenderung berkurang ketika temperatur dan jumlah bulan kering meningkat.

Ini berarti musim kemarau panjang justru menguntungkan spesies nyamuk yang paling efektif menularkan virus dengue.

Preferensi Manusia Tingkatkan Toleransi Kekeringan

Preprint penelitian pada Januari 2026 menunjukkan kemampuan telur Aedes aegypti menghadapi kekeringan berbeda antar-populasi. Nyamuk dari lingkungan perkotaan dengan preferensi tinggi terhadap manusia menunjukkan tingkat kelangsungan hidup telur lebih tinggi dalam kondisi kering berkepanjangan.

Peneliti menyebut temperatur musim kering menjadi salah satu faktor yang memprediksi toleransi telur terhadap kekeringan. Perlu dicatat, temuan ini masih berstatus preprint dan belum melalui proses peer review jurnal.

Wadah Air di Rumah Tetap Jadi Sarang Potensial

Kemarau bukan berarti lingkungan benar-benar tanpa air. Ember, bak mandi, vas bunga, tatakan pot, talang, hingga dispenser masih menyimpan air dan menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.

WHO menyebut tempat perkembangbiakan Aedes dapat ditemukan di dalam maupun luar rumah. Keluhan netizen soal nyamuk yang meningkat saat kemarau pun memiliki dasar ilmiah, meski belum menjadi bukti epidemiologis lonjakan populasi nasional.

Masyarakat tetap perlu menerapkan 3M Plus—menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas—sepanjang tahun, bukan hanya saat musim hujan.

Follow jabarviral.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks