JAWA BARAT — Direktur Utama PGN Gagas, Santiaji Gunawan, mengungkapkan bahwa kebutuhan tabung CNG selama ini sepenuhnya dipenuhi dari produsen luar negeri. "Karena memang bisa berproduksi hari ini dari luar. Ada Cina, ada Eropa," ujarnya di Yogyakarta, Kamis (20/8/2026).
Kajian pengembangan produksi ini melibatkan Pertamina Group secara keseluruhan bersama Pindad. Santiaji berharap produk dalam negeri dapat segera hadir dan dimanfaatkan untuk kebutuhan operasional.
"Kita lagi, Pertamina Group, termasuk kami, sudah punya CIG. Mudah-mudahan nanti di akhir-akhir tahun sudah muncul produk yang dari Pindad lah yang bisa dibutuhkannya," jelas dia.
Faktor Keselamatan Jadi Prioritas Utama
Proses pengembangan tabung CNG tidak bisa dilakukan sembarangan. Santiaji menekankan bahwa aspek keselamatan menjadi pertimbangan utama, mengingat tabung digunakan untuk menyimpan gas dengan tekanan sangat tinggi hingga sekitar 200 bar saat proses transportasi.
"Mudah-mudahan lah ya, karena kajiannya terus-lagi terus proseskan ya, supaya safety, lagi-lagi kita harus safety-safety, karena ini kan dipakai untuk masyarakat," ujarnya.
Perhatian terhadap keselamatan mencakup seluruh rantai penanganan, mulai dari proses pengisian, pengangkutan, penyimpanan, hingga penyaluran gas kepada pelanggan.
Skema Penggunaan: Pelanggan Bayar Volume, Bukan Beli Tabung
Dalam sistem pemanfaatan CNG untuk pelanggan komersial, PGN Gagas menempatkan tabung di ruang khusus atau gas room. Dari lokasi tersebut, gas dialirkan menuju dapur atau area penggunaan melalui jaringan.
Menariknya, pelanggan tidak perlu membeli tabung yang mereka gunakan. Seluruh aset tabung tetap menjadi milik penyedia, sementara pelanggan membayar berdasarkan volume gas yang dikonsumsi.
"Alat milik aset kita. Mereka hanya beli isinya saja. Jadi semua tabungnya Pindad punya kita. Mereka hanya isi saja," kata Santiaji.
Untuk tabung berukuran besar yang dipasang permanen, pengisian ulang dilakukan melalui sistem CTF sehingga tidak perlu penggantian tabung secara berkala. "Jadi kita gak bolak-balik ganti? Karena satu tabung besar itu, tabungnya CNG itu 180 kilo," tambahnya.
Transparansi Transaksi Lewat Meteran
Meskipun menggunakan sistem tabung, transaksi antara PGN Gagas dan pelanggan tetap mengedepankan transparansi. Setiap penggunaan gas dicatat melalui meteran, sama seperti sistem jaringan pipa pada umumnya.
"Dan mereka nanti walaupun tabung, tapi tetap pakai meteran. Jadi ada meterannya, karena itu transparansi kita berkontrak penjual-beli supaya tetap ada meter," jelas Santiaji.
Dengan sistem ini, pelanggan membayar sesuai konsumsi yang tercatat di meter. "Intinya sama lah kalau gas pipa atau CNG, pakai dulu baru bayar. Itu mudah. Pakai dulu baru bayar," pungkasnya.
Langkah PGN Gagas menggandeng Pindad ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian industri energi nasional, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor komponen vital infrastruktur gas bumi.