JAWA BARAT — Menteri PU Dody Hanggodo menyatakan pembangunan fasilitas ini merupakan bagian dari strategi pembinaan atlet paralimpiade secara terpadu. "Saya yakin Indonesia memiliki potensi besar dalam mencetak atlet paralimpiade berbakat. Dengan pembangunan Paralympic Training Center ini, diharapkan para atlet paralimpiade Indonesia dapat berlatih dengan lebih optimal dan terarah," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (10/6).
Dua Tower Asrama dan Kolam Renang Khusus
Pusat pelatihan ini memiliki total luas bangunan 34.346 meter persegi. Gedung GOR 1 seluas 17.482 meter persegi menjadi arena utama, sementara gedung asrama seluas 16.864 meter persegi terdiri dari dua tower rumah susun setinggi empat lantai.
Asrama tersebut menyediakan 188 kamar yang mampu menampung 392 atlet. Fasilitas olahraga yang tersedia mencakup kolam renang utama, kolam pemanasan, kolam recovery, arena boccia, arena menembak, arena tenis meja dan wheel chair tenis meja, arena badminton, arena angkat besi, serta arena blind judo.
Lintasan Atletik Standar Internasional
Selain arena dalam ruangan, kompleks ini juga dilengkapi ruang multifungsi, lapangan sepak bola, lintasan atletik 400 meter, lintasan lompat jauh, lompat tinggi, dan tolak peluru. Dengan fasilitas terintegrasi itu, atlet paralimpiade diharapkan dapat menjalani program latihan sesuai standar kompetisi internasional.
Keberadaan pusat pelatihan ini tidak hanya berdampak pada pembinaan olahraga. Aktivitas atlet, pelatih, tenaga pendukung, hingga penyelenggaraan kegiatan olahraga tingkat nasional maupun internasional dinilai dapat mendorong pertumbuhan sektor pariwisata, perhotelan, kuliner, serta usaha mikro di Kabupaten Karanganyar.
Rencana Pengembangan Tahap Kedua
Kementerian PU telah merencanakan pengembangan tahap kedua pada kawasan tersebut. Rencananya, akan ada penambahan gedung olahraga dan asrama guna memperluas kapasitas pembinaan atlet. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menyediakan infrastruktur olahraga inklusif yang setara dengan standar global.