BANDUNG — Langkah antisipasi itu mulai digencarkan sejak April lalu melalui koordinasi lintas sektor, meski status siaga darurat kekeringan belum resmi ditetapkan. Pasalnya, kondisi cuaca di Jawa Barat masih menunjukkan anomali dengan masih turunnya hujan di beberapa titik.
Ancaman Karhutla di Hutan Produksi
Catatan BPBD Jawa Barat pada musim kemarau tahun lalu mencatat setidaknya 710 kejadian karhutla. Wilayah yang menjadi langganan titik api antara lain Majalengka, Sumedang, Subang, Sukabumi, Kabupaten Bandung, dan Kuningan.
"Rata-rata memang di wilayah dengan tutupan hutan produksi. Hutan alami di Jawa Barat sudah sangat berkurang," ujar Pranata Humas Ahli Muda BPBD Jabar, Hadi Rahmat, Sabtu (6/6/2026).
Belum Ada Status Siaga, Cuaca Masih Dinamis
Kesiapsiagaan yang dilakukan mencakup penyiagaan mesin pompa (alkon) untuk pemadaman dan mobil tangki air bersih. Namun, Hadi menegaskan bahwa pihaknya belum menetapkan status siaga kekeringan secara resmi.
"Secara siklus memang sudah kemarau, tapi kondisi di lapangan masih dinamis. Jadi kita masih wait and see," katanya. Ia mencontohkan, sebagian wilayah justru masih diguyur hujan dan bahkan mengalami banjir dalam beberapa pekan terakhir.
Mengacu pada Pengalaman 2023 yang Ekstrem
BPBD mewaspadai pola yang sama dengan kemarau 2023, yang dinilai cukup ekstrem dampaknya. Saat itu, sejumlah daerah tercatat sebagai wilayah terdampak tertinggi kekurangan air bersih, termasuk Kabupaten Bogor, Kabupaten Bandung, Ciamis, Bekasi, dan Garut.
"Kalau kita mengacu ke 2023, itu cukup ekstrem. Dan pola yang sama masih berpotensi terjadi jika El Nino kembali menguat," ujar Hadi.
Prediksi BMKG: El Nino Moderat, Bukan Godzilla
Terpisah, BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung memprediksi puncak kemarau di Jawa Barat, termasuk Bandung Raya, terjadi pada Agustus 2026. Fungsional Pengamat Meteorologi dan Geofisika Muda BMKG Bandung, Yuni Yulianti, mengatakan fenomena El Nino tahun ini diprakirakan berada pada kategori moderat.
"Untuk tahun ini diprediksi El Nino moderat, dengan peluang kecil menuju kuat, tetapi dominan tetap moderat," kata Yuni.
BMKG juga mengklarifikasi bahwa istilah "El Nino Godzilla" yang sempat ramai di publik tidak digunakan secara resmi dalam klasifikasi meteorologi. "BMKG sendiri tidak pernah merilis adanya El Nino Godzilla. Kami mengkategorikan El Nino itu menjadi tiga, yaitu El Nino lemah, moderat, dan kuat," tegasnya.