JAWA BARAT — Kenaikan harga minyak sawit mentah atau CPO global akhirnya memaksa pemerintah menyesuaikan harga jual Minyakita. Produk minyak goreng kemasan sederhana yang selama ini menjadi andalan masyarakat berpenghasilan rendah itu akan segera naik harga.
Keputusan ini diambil dalam rapat koordinasi lintas kementerian di Jakarta. Pemerintah sepakat bahwa harga eceran tertinggi (HET) Minyakita saat ini sudah tidak relevan lagi dengan biaya produksi yang membengkak.
Harga CPO Naik, Produsen Terjepit
Dalam dua bulan terakhir, harga CPO dunia merangkak naik hingga menembus level yang membuat produsen minyak goreng dalam negeri kewalahan. Biaya produksi Minyakita—yang seharusnya dijual murah untuk rakyat—kini nyaris tidak tertutupi oleh HET yang berlaku.
Sejumlah produsen skala kecil bahkan sempat mengeluh karena margin mereka tergerus habis. Jika tidak segera disesuaikan, pasokan Minyakita di pasar rakyat bisa terganggu.
HET Baru: Tunggu Hasil Pantauan Harga
Menteri Perdagangan menyatakan bahwa besaran kenaikan HET belum final. Pemerintah masih mengumpulkan data harga dari berbagai daerah sebelum menetapkan angka pasti.
"Kami ingin keputusan ini tepat sasaran. Tidak memberatkan masyarakat, tapi juga tidak mematikan produsen," ujar pejabat Kementerian Perdagangan dalam pernyataan resmi. Hasil pemantauan harga diperkirakan rampung dalam pekan ini.
Dampak ke Kantong Masyarakat
Kenaikan HET Minyakita jelas akan berdampak langsung pada ibu rumah tangga dan pelaku UMKM kuliner. Selama ini, Minyakita menjadi pilihan utama karena harganya jauh lebih murah dibanding minyak goreng premium.
Pemerintah berjanji kenaikan tidak akan drastis. Namun, berapa pun angkanya, beban belanja rumah tangga kelas menengah bawah dipastikan bertambah di tengah harga bahan pokok lain yang juga merangkak naik.
Langkah ini menjadi ujian bagi pemerintah: menjaga daya beli rakyat di satu sisi, dan menyelamatkan industri minyak goreng nasional di sisi lain. Keputusan final HET baru ditunggu paling lambat akhir bulan ini.