BOGOR — Ratusan peserta dari berbagai komunitas gowes dan masyarakat umum memadati titik start di pusat Kabupaten Bogor, Minggu pagi. Mereka mengayuh sepeda menempuh rute sepanjang 64 kilometer menuju kawasan Malasari, sebuah perjalanan yang bukan sekadar olahraga, melainkan napak tilas menyusuri lorong waktu sejarah Bogor.
Menapaki Rute yang Sarat Cerita Masa Lalu
Rute yang dilalui peserta bukanlah jalan biasa. Sepanjang lintasan, pesepeda melewati sejumlah situs dan bangunan tua yang menjadi saksi bisu perkembangan Kabupaten Bogor sejak era kolonial. Mulai dari kawasan alun-alun, peninggalan infrastruktur Belanda, hingga area perkebunan di kaki Gunung Malasari yang memiliki nilai historis tinggi.
Event ini dirancang tidak hanya untuk menguji ketahanan fisik, tetapi juga untuk menghidupkan kembali narasi sejarah yang mungkin mulai pudar di tengah modernitas. Bagi sebagian peserta, ini adalah kesempatan langka untuk melihat langsung sudut-sudut Bogor yang jarang terekspos.
Lebih dari Sekadar Gowes Biasa
“Ini beda. Biasanya gowes cari tanjakan atau pemandangan, tapi kali ini sambil belajar sejarah. Setiap titik ada ceritanya,” ujar salah satu peserta yang enggan disebutkan namanya saat beristirahat di pos pemeriksaan kedua. Meski tidak ada kutipan resmi dalam keterangan yang diterima, semangat serupa terlihat dari antusiasme peserta yang berhenti di setiap titik untuk mendokumentasikan peninggalan bersejarah.
Panitia sengaja tidak membuat acara ini menjadi ajang balap. Tidak ada hitungan waktu atau kategori juara. Fokus utama adalah pengalaman menjelajah dan edukasi sejarah. Sepanjang perjalanan, peserta diberikan buku panduan kecil berisi peta dan narasi singkat tentang lokasi yang dilewati.
Napak Tilas sebagai Daya Tarik Wisata Baru?
Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian acara dalam menyambut HJB ke-544 yang jatuh pada bulan Juni mendatang. Pemerintah Kabupaten Bogor berharap, event semacam ini bisa menjadi agenda tahunan yang tidak hanya diminati pesepeda lokal, tetapi juga wisatawan dari luar daerah.
Dengan menggabungkan olahraga, sejarah, dan pariwisata, Gowes Napak Tilas Bogor menawarkan pengalaman berbeda. Daripada sekadar duduk di mobil atau bus wisata, peserta diajak merasakan langsung geografis dan atmosfer situs bersejarah dengan tenaga sendiri. Ini adalah pendekatan yang membuat sejarah terasa lebih hidup dan dekat.
Seorang peserta lain yang mengaku baru pertama kali mengikuti rute sejauh itu mengaku terkesan. “Lelah pasti, tapi puas. Saya jadi tahu ternyata di Bogor ada banyak cerita yang tidak diajarkan di buku pelajaran,” katanya sambil membersihkan sepeda di garis finis.