BOGOR — Di gang-gang sempit permukiman padat di Kelurahan Cibogor dan sekitarnya, persoalan pembuangan air limbah domestik bukan sekadar soal teknis. Selama bertahun-tahun, warga mengandalkan tangki septik pribadi yang kerap meluap atau merembes ke saluran lingkungan, memicu bau tak sedap dan risiko pencemaran air tanah.
Pemkot Bogor kini merespons persoalan itu dengan mendorong pembangunan septic tank komunal. Sistem ini menyatukan pengolahan limbah dari puluhan rumah tangga dalam satu instalasi pengolahan yang lebih terstandar, sehingga kualitas buangannya lebih aman bagi lingkungan.
Solusi untuk Permukiman Rawan Pencemaran
Septic tank komunal menjadi pilihan utama di kawasan yang lahannya tidak memungkinkan untuk pembangunan tangki septik individual. Dalam sistem ini, saluran air limbah dari setiap rumah akan dialirkan ke satu titik pengolahan bersama yang dikelola oleh kelompok warga atau kelurahan.
“Kami targetkan tahun ini ada 15 titik baru septic tank komunal di beberapa kecamatan, terutama di daerah padat dan rawan banjir yang selama ini jadi langganan masalah limbah,” ujar Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Bogor, dalam keterangan yang diterima, Senin.
Bukan Sekadar Proyek Fisik, Tapi Perubahan Kebiasaan
Selain infrastruktur fisik, Pemkot juga menggenjot program sambungan air limbah rumah tangga langsung ke Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) kota. Warga di kawasan yang sudah terjangkau jaringan perpipaan limbah diwajibkan menyambungkan saluran rumahnya ke sistem kota.
Di Kecamatan Bogor Tengah, misalnya, petugas dari Dinas PUPR bersama kelurahan melakukan sosialisasi door-to-door. Mereka mendata rumah tangga yang masih membuang limbah ke saluran drainase atau sungai, lalu menawarkan program sambungan gratis atau bersubsidi.
Anggaran dan Target: Mengejar Ketertinggalan
Pemkot mengalokasikan dana dari APBD 2025 sebesar Rp 12,5 miliar untuk program sanitasi ini. Anggaran itu mencakup pembangunan septic tank komunal baru, perbaikan instalasi eksisting, serta perluasan jaringan perpipaan air limbah ke 500 rumah tangga tambahan.
Hingga akhir 2024, capaian akses sanitasi layak di Kota Bogor baru sekitar 78 persen. Artinya, masih ada lebih dari 20 persen warga yang belum memiliki akses terhadap sistem pembuangan limbah yang aman dan berkelanjutan.
Warga: Dulu Khawatir, Kini Lebih Tenang
Salah seorang warga RT 05 RW 02 Kelurahan Cibogor, Siti (45), mengaku lega setelah rumahnya tersambung ke septic tank komunal yang dibangun di ujung gang. “Dulu kalau hujan deras, air dari tangki septik saya sering naik ke halaman. Bau sekali. Sekarang alhamdulillah, saluran lancar dan tidak bau lagi,” katanya.
Cerita Siti mencerminkan dampak langsung yang dirasakan warga dari program ini. Selain mengurangi risiko penyakit akibat sanitasi buruk, septic tank komunal juga meringankan beban warga yang sebelumnya harus menguras tangki septik pribadi setiap beberapa bulan.
Tantangan: Perilaku dan Keterbatasan Lahan
Meski program berjalan, tantangan tetap ada. Tidak semua warga langsung setuju ketika saluran limbah rumahnya harus dibongkar dan disambungkan ke sistem komunal. Ada kekhawatiran soal biaya perawatan bersama atau perubahan tata letak kamar mandi.
“Kami butuh pendekatan persuasif dan pendampingan teknis. Ini bukan proyek yang bisa selesai dalam sebulan. Perubahan kebiasaan butuh waktu,” tambah Kepala Dinas PUPR.
Pemkot berencana mempercepat program ini dengan menggandeng kader lingkungan dan PKK di setiap kelurahan sebagai ujung tombak sosialisasi. Target ambisiusnya, pada 2029 seluruh permukiman di Kota Bogor sudah memiliki akses sanitasi aman sesuai standar nasional.
Di balik angka dan anggaran, yang sedang diperjuangkan adalah perubahan kecil namun fundamental: bagaimana air bekas cucian dan kakus tidak lagi mencemari sumur tetangga atau menggenang di selokan depan rumah.