JAWA BARAT — Anak susah makan jadi keluhan yang paling sering muncul di grup-grup ibu, padahal masalah ini kerap bisa diatasi dengan jadwal yang lebih teratur. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan pola makan 3 kali sehari plus 1-2 kali selingan dan ASI/susu 2-3 kali untuk bayi usia 6-23 bulan. Panduan berikut merangkum jadwal, aturan jeda antar makan, dan cara membangun kebiasaan makan yang sehat.
Bayi usia 6 bulan yang baru mulai MPASI butuh lebih dari sekadar menu bergizi. Regulasi makan yang baik terbentuk saat anak belajar mengenali rasa lapar dan kenyang, dan itu hanya bisa terjadi kalau waktu makannya teratur.
Rasa lapar muncul berkaitan dengan pengosongan lambung. Pada kondisi normal, lambung butuh sekitar 100 menit untuk mengosongkan makanan padat dan 75 menit untuk makanan cair. Semakin bertambah usia bayi, kapasitas lambung membesar dan durasi pengosongan pun ikut memanjang.
Makan bagi bayi yang baru memulai MPASI bukan cuma soal kuantitas, tapi juga kualitas dan ritmenya. Membuat jadwal makan adalah cara paling praktis untuk membangun regulasi internal anak.
Dengan pola yang teratur, anak belajar memprediksi kapan waktu makan datang. Ia juga lebih mudah menyadari sinyal lapar dan kenyang dari tubuhnya sendiri. Efek jangka panjangnya, anak tumbuh dengan hubungan yang sehat terhadap makanan.
IDAI merekomendasikan anak makan 3 kali sehari, ditambah 1-2 kali makanan selingan (snack), dan ASI atau susu 2-3 kali sehari. Jumlah ini bisa jadi acuan, tapi pemberiannya tetap harus menyesuaikan kebutuhan masing-masing anak.
Soal jeda antar waktu makan, dokter spesialis anak Meta Hanindita menjelaskan bahwa jarak 2 jam tidak selalu jadi patokan. Seiring bertambahnya usia si kecil, durasi pengosongan lambung makin lama, sehingga jeda bisa 2,5 jam atau bahkan 3 jam.
Satu aturan yang sering diabaikan: di antara waktu makan, anak hanya boleh minum air putih. Memberi camilan di luar jadwal justru membuat anak kenyang saat waktu makan utama tiba.
IDAI menekankan tiga hal yang perlu diperhatikan orang tua agar anak belajar makan dengan baik.
Susun waktu makan dan snack secara teratur, termasuk durasi makannya. Usahakan anak tidak makan lebih dari 30 menit di satu sesi. Di luar waktu itu, cukup sediakan air putih.
Jangan paksa anak meski ia hanya makan 1-2 suap. Hindari juga memberi makanan sebagai hadiah, karena ini bisa membentuk pola hubungan yang salah dengan makanan.
Matikan televisi dan jauhkan mainan saat makan. Anak yang makan sambil bermain cenderung tidak fokus pada rasa kenyangnya.
Sajikan makanan dalam porsi kecil agar anak tidak kewalahan. Kalau setelah 15 menit anak hanya bermain-main, tampak kesal, atau membuang makanannya, hentikan sesi makan.
Dorong anak untuk makan sendiri sesuai kemampuannya. Bersihkan mulutnya setelah makan selesai, bukan di tengah-tengah sesi, supaya ia tidak terganggu.
Anak yang makannya terjadwal cenderung lebih mudah menangani emosinya. Selama ini makanan sering jadi pelarian saat anak rewel, dan jadwal yang jelas membantu memutus kebiasaan itu.
Untuk anak tipe small eater atau yang makannya sedikit, pola terjadwal justru membuatnya cukup lapar saat makanan bergizi disajikan. Ia juga belajar menyesuaikan diri dengan isyarat tubuhnya sendiri.
Bila anak tetap menolak makan dalam waktu lama, berat badannya tidak naik sesuai kurva pertumbuhan, atau ia tampak lemas dan sering rewel, segera konsultasikan ke dokter spesialis anak. Kesulitan makan yang berlangsung terus-menerus bisa jadi tanda masalah medis yang perlu penanganan khusus.
Mengatur jadwal makan tidak perlu rumit. Mulai dari tiga waktu makan utama yang konsisten, jeda yang cukup, dan lingkungan makan yang tenang, ibu sudah memberi fondasi besar untuk tumbuh kembang anak.