Warga Kabandungan Temukan 14 Titik Sampah di Gunung Kendeng Sukabumi, Karung Cangkang Durian hingga Pampers

Penulis: Valdi Pratama  •  Selasa, 22 September 2026 | 07:16:01 WIB
Warga menelusuri titik pembuangan sampah di kawasan Gunung Kendeng, Kabandungan, Sukabumi.

SUKABUMI — Kepala Dusun Cisarua, Saepul Bahri, menuturkan penemuan bermula saat ia bersama warga lari pagi di kawasan Gunung Kendeng. Mereka melihat kresek merah, hitam, dan karung besar berserakan di beberapa titik.

Setelah ditelusuri, sampah tidak terkumpul di satu lokasi. Ada 14 titik pembuangan yang tersebar di kawasan hutan sekitar TNGHS tersebut.

Apa Saja Jenis Sampah yang Ditemukan di Gunung Kendeng?

Sampah yang ditemukan didominasi limbah rumah tangga. Plastik dan pampers menjadi jenis yang paling banyak dikeluhkan warga.

"Kita cari dulu, dikira satu lokasi. Ternyata setelah ditelusuri ada 14 titik. Terutama yang jadi keluhan itu sampah plastik sama pampers. Dari situ punya inisiatif sama teman-teman untuk bersih-bersih," ujar Saepul.

Dari beberapa temuan, ada bungkus belanja online yang masih menyertakan resi pengiriman. Alamat pada resi mengarah ke daerah luar, seperti Kabandungan dan Kaladi.

Saepul juga menemukan karung berisi cangkang durian. Di Cisarua, menurutnya, tidak ada toko atau warung buah yang menjual durian.

Siapa yang Terlibat dalam Aksi Bersih-Bersih?

Kegiatan bersih-bersih melibatkan sejumlah pihak. Selain Saepul, hadir Ketua BPD Cipeuteuy Dayat Hidayat, Ketua Barucis Dian Cahyadi, serta Ketua Gerakan Masyarakat Peduli Lingkungan (Gampil) Adi Suryadi bersama anggota komunitas.

Aksi sudah berjalan empat kali. Namun, satu titik lokasi saja belum seluruhnya selesai dibersihkan karena volume sampah yang banyak.

"Baru empat kali kita bersih-bersih di situ. Satu titik lokasi saja belum beres. Kalau bersih-bersih tiap hari kemungkinan enam bulan juga belum tentu rampung, karena memang sampahnya banyak banget," ungkapnya.

Mengapa Sampah Tidak Dibuang ke TPA?

Belum tersedia lokasi penampungan sementara di sekitar kawasan. Sampah yang terkumpul kemudian dibakar secara bertahap dengan pemantauan agar tidak menimbulkan dampak lain, terutama saat musim kemarau.

"Jadi tidak langsung dibuang. Kita kumpulkan, kita bakar, ditunggu sampai benar-benar habis baru pindah lagi. Dipantau juga takutnya merembet ke yang lain," jelas Saepul.

Ia berharap ada kolaborasi dengan pihak TNGHS untuk menjaga kebersihan kawasan. Hingga kini, kegiatan bersih-bersih masih dilakukan secara mandiri oleh warga karena waktu pelaksanaan bertepatan dengan hari libur pihak TNGHS.

Sampah Juga Penuhi Saluran Irigasi di Perbatasan Parungkuda-Cidahu

Masalah serupa ditemukan di saluran air irigasi kawasan perbatasan Desa Babakanjaya, Kecamatan Parungkuda, dan Desa Pondokkaso Tonggoh, Kecamatan Cidahu. Camat Parungkuda Hasanudin melakukan peninjauan ke lokasi tersebut pada Senin (21/9/2026).

Pengecekan masih berupa melihat kondisi fisik saluran yang diduga menjadi salah satu penyebab banjir ketika hujan turun.

"Iya, kita baru melihat secara fisik keberadaan irigasi yang memang menjadi salah satu permasalahan mungkin ketika terjadi hujan sering terjadi banjir," ujar Hasanudin.

Saluran air itu merupakan irigasi yang saat ini sudah tidak aktif. Pihak kecamatan perlu memastikan apakah lokasi tersebut memang aliran irigasi atau bagian dari sodetan.

"Kita pastikan dulu, Pak Kades, itu apa memang betul dulunya aliran irigasi atau memang yang sekarang menjadi sodetan," katanya.

Informasi yang dihimpun menyebut saluran yang ada saat ini hanya mengaliri sebagian kecil area persawahan, sedangkan aliran utama berada di jalur berbeda. Kecamatan Parungkuda akan berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk Dinas Pekerjaan Umum atau PSDA.

"Ini kebetulan berbatasan antara Desa Babakanjaya dengan Pondokkaso Tonggoh. Jadi kita perlu koordinasi, dan alhamdulillah Pak Kades dua-duanya hadir," ujarnya.

Selain memastikan status saluran, Hasanudin menyoroti keberadaan sampah di sepanjang aliran. Kondisi tersebut perlu segera ditangani agar tidak memperparah banjir saat hujan turun.

Reporter: Valdi Pratama
Sumber: sukabumiupdate.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top