BANDUNG — Rasyid Aaqil menutup perjalanan terakhirnya di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 West Java-East dengan torehan yang ia impikan sejak kelas 10. Pemain SMAN 24 Bandung itu membantu Dua Empat kembali ke babak delapan besar, capaian yang terakhir diraih sekolahnya pada 2019.
Musim ini menjadi tahun ketiga sekaligus terakhir Rasyid bermain di Bandung Arena. Ia ingin menjadikan musim terakhirnya sebagai momen untuk memberikan sesuatu yang berarti bagi sekolah.
Penantian selama tiga tahun itu bermula ketika Rasyid pertama kali mengenakan seragam Dua Empat. Sejak awal ia sudah memasang target membawa sekolahnya menembus babak delapan besar.
"Dari aku main kelas 10. Aku sudah punya mimpi buat bisa bawa sekolah main di babak delapan besar," ujar Rasyid.
Jalan menuju titik itu tidak mulus. Pada musim pertamanya, perjalanan Dua Empat harus terhenti pada pertandingan kedua. Semusim berikutnya, tim kembali tersingkir sejak pertandingan pertama.
Ketika pertama kali masuk skuad Dua Empat pada kelas 10, Rasyid mengakui masih memiliki banyak kekurangan dalam kemampuan dasar bermain basket. Ia bahkan menyebut dirinya belum menguasai teknik dasar saat itu.
"Waktu aku kelas 10 itu aku nggak bisa main apa-apa. Shooting nggak bisa. dribble apalagi. Mungkin aku kepilih itu karena aku sedikit lebih baik dari yang lain," ungkapnya.
Pengalaman itu menjadi pemicu bagi Rasyid untuk terus memperbaiki diri. Ia meningkatkan intensitas latihan dan mengasah kemampuan bermainnya hingga menjadi bagian penting dari perjalanan Dua Empat musim ini.
Dua kekalahan di musim-musim sebelumnya meninggalkan kesan mendalam bagi Rasyid. Ia menyebut kekalahan di ajang DBL bukan hal yang mudah diterima, terutama karena harus menunggu setahun untuk membalasnya.
"Kalah di DBL itu nggak enak banget. Kita mau nggak mau disuruh sabar buat nunggu tahun depan. Nah, buat aku yang kelas 12 sudah nggak ada kata tahun depan lagi. Harus all out setiap pertandingannya," tuturnya.
Kesadaran bahwa musim ini merupakan kesempatan terakhir membuat Rasyid memasang target lebih tinggi. Ia berharap dapat membawa Dua Empat melangkah hingga partai final.
Namun sebelum mengejar target tersebut, Rasyid memiliki satu tujuan yang ingin diwujudkan terlebih dahulu: membawa sekolahnya kembali ke babak delapan besar. Enam tahun berselang setelah capaian 2019, ia akhirnya ikut mencatatkan namanya dalam perjalanan tim untuk kembali mencapai Big Eight.