Warga Garut Keluhkan Bau Menyengat Limbah Kulit Terbakar di Seberang SPBU Copong, Api Baru Padam 19.38 WIB

Penulis: Yanuar Fahrezi  •  Minggu, 20 September 2026 | 14:46:01 WIB

GARUT — Pembakaran limbah kulit di Kampung Copong, RW 026, Jalan Sudirman, tepat di seberang SPBU Copong, menimbulkan asap tebal yang mengganggu warga sekitar. Bau menyengat mulai tercium sejak pagi dan semakin pekat pada siang hari. Warga mengaku tidak mengetahui pasti kapan limbah dibuang maupun mulai dibakar.

Seorang warga setempat, NN (45), menyebut dirinya mulai mencium bau asap sekitar pukul 05.00 WIB. Saat itu, aroma yang muncul belum terlalu kuat.

"Kalau tepatnya kapan datangnya limbah kulit dan kapan terjadinya pembakaran saya tidak tahu. Saya hanya merasakan pengap dengan polusi udaranya. Cuma yang saya rasakan sekitar pukul 05.00 WIB kurang lebih bau asap menyengat sudah ada, cuma gak terlalu kencang," kata NN.

Asap Tebal Dikhawatirkan Ganggu Jarak Pandang Pengguna Jalan

Petugas keamanan Komplek Mandala Residence, Hardi, menyampaikan keterangan serupa. Bau asap mulai tercium sejak pagi, lalu berubah pekat saat siang.

"Baunya kecium sejak pagi, cuma tidak terlalu tajam. Ketika siang baru aroma tak sedap mulai pekat, bahkan terjadi asap tebal," kata Hardi.

Hardi khawatir asap tebal mengurangi jarak pandang pengguna jalan yang melintas di Jalan Sudirman. Menurutnya, kondisi itu berpotensi membahayakan keselamatan pengendara jika tidak segera ditangani.

"saya khawatir kalau tidak segera dipadamkan akan berakibat juga terhadap keselamatan pengguna jalan" ujarnya.

Warga Menghubungi Lurah, Petugas Damkar Turun ke Lokasi

Warga Mandala Residence, AND (31), menghubungi Lurah Sukamenteri untuk meminta penanganan. Alasannya, asap tebal dan pencemaran udara dinilai berbahaya bagi kesehatan.

"Dengan kondisi asap tebal dan pencemaran udara yang sangat bahaya untuk kesehatan, saya segera menghubungi Pak Lurah menyampaikan kejadian ini. Saya meminta segera untuk menindaklanjuti hal tersebut, agar keselamatan para pengguna jalan juga terjaga dan polusi pembakaran ini yang berdampak terhadap kesehatan," kata AND.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Lurah Sukamenteri Wijiyono melakukan pengecekan langsung ke lokasi. Karena api masih menyala dan sulit dipadamkan secara manual, pihak kelurahan menghubungi pemadam kebakaran.

Tim pemadam kebakaran melakukan pemadaman pada pukul 19.18 WIB. Api berhasil dipadamkan sekitar pukul 19.38 WIB.

APKI Garut: Limbah Diduga Dibawa Truk Sayuran dari Cikarang

Perwakilan Asosiasi Pengusaha Kulit Indonesia (APKI) Garut, H. Daud, menduga limbah kulit yang dibuang di lokasi tersebut berasal dari luar Kabupaten Garut. Menurutnya, pengrajin Sukaregang kerap ikut terdampak dari pembuangan limbah jenis ini.

"Saya sebagai ketua perkumpulan, APKI itu selalu kena getahnya dari pembuangan limbah ini. Sebenarnya limbah kulit ini bukan dari pengusaha atau pengrajin dari Sukaregang, tapi dari luar Garut," kata Daud.

Daud menjelaskan, limbah diduga dibawa menggunakan kendaraan pengangkut sayuran dari Garut yang sebelumnya mengantarkan muatan ke wilayah Cikarang. Setelah bongkar muatan, mobil dalam kondisi kosong dan mengambil limbah dari pabrik kulit dengan bayaran.

"Jadi begini, proses sampainya limbah kulit dari luar kota itu dibawa oleh sopir pengangkut sayuran dari Garut ke daerah Cikarang. Nanti selesai mengantar sayuran, mobil itu kan kosong. Nah, mereka itu datang ke pabrik kulit, lalu pabrik itu menyuruh mengangkut dan dibayar untuk pembuangan," jelasnya.

Menurut Daud, sopir kemudian kebingungan mencari lokasi pembuangan sehingga limbah tersebut dibuang di Garut dan sejumlah lokasi lainnya.

Limbah Akan Diangkut Setelah Api Benar-benar Padam

Daud menyatakan limbah kulit tersebut akan diangkut dan dibuang ke tempat yang semestinya setelah api benar-benar padam. Proses pembuangan, kata dia, akan melibatkan pihak ketiga sebagai pengelola.

"Limbah ini setelah pendinginan dan tidak ada api akan kami angkut, dibersihkan, dan dibuang. Pembuangan ini juga tidak sembarangan, tentunya ada pihak ketiga sebagai pengelola," terangnya.

Reporter: Yanuar Fahrezi
Sumber: koranmandala.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top