Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat menyiagakan personel untuk memantau dan menangani cepat kebakaran hutan di Kabupaten Garut selama musim kemarau. Empat kawasan cagar alam (CA) menjadi prioritas patroli, yakni CA Papandayan, CA Talaga Bodas, CA Kamojang/Guntur, dan CA Sancang.
GARUT — Ancaman kebakaran hutan di Garut memasuki fase kritis seiring puncak musim kemarau. BBKSDA Jawa Barat melalui Seksi Konservasi Wilayah V Garut mengerahkan personel untuk patroli terpadu, menyusuri kawasan konservasi dan lahan yang berbatasan langsung dengan cagar alam.
Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Garut BBKSDA Jawa Barat, Vitriana Yulalita, mengatakan patroli melibatkan pemerintah desa dan masyarakat sekitar. Langkah ini diambil setelah beberapa titik api sempat muncul di kawasan CA, terutama di Kamojang atau Guntur, serta kebakaran lahan di dekat kawasan konservasi.
"Alhamdulillah saat ini sudah padam dan aman," kata Vitriana di Garut, Selasa.
Tim gabungan BBKSDA dan unsur terkait bergerak cepat memadamkan kobaran api sebelum menjalar lebih luas. Kondisi kawasan CA dan sekitarnya kini terpantau aman, namun patroli rutin tetap digencarkan untuk memastikan tidak ada potensi titik api baru.
BBKSDA tidak hanya mengandalkan patroli. Sosialisasi dan edukasi ke masyarakat sekitar kawasan CA terus diperkuat, mengingat sebagian besar kebakaran dipicu aktivitas manusia.
"Terutama sosialisasi dan edukasi masyarakat sekitar ya, karena faktor penyebab paling besar adalah aktivitas manusia. Lebih baik mencegah daripada pemadaman," ujarnya.
Masyarakat diimbau tidak beraktivitas di dalam kawasan cagar alam yang rawan memicu percikan api, baik dari pembakaran sampah, puntung rokok, maupun aktivitas lain yang berisiko.
BBKSDA juga menggandeng Masyarakat Peduli Api (MPA) untuk memperluas jangkauan pengawasan. Kelompok ini ditempatkan di titik-titik rawan, termasuk lahan di luar kawasan konservasi yang berpotensi merembet ke dalam CA.
"MPA kami penekanan aksinya di dalam kawasan konservasi, tapi tidak menutup kemungkinan di lahan di luar kawasan konservasi yang potensi merembet ke dalam karena tidak terkendali lagi," kata Vitriana.
Patroli rutin terus dilakukan dengan menyisir sejumlah kawasan untuk memastikan kondisi tetap aman hingga musim kemarau berakhir.