JAWA BARAT — Ajaib menempatkan kecerdasan buatan sebagai fondasi layanan investasi jangka panjang, bukan sekadar fitur pelengkap. Perusahaan menyebut pengembangan ini akan mengubah cara generasi muda berinteraksi dengan uangnya—dari menu dan tombol menjadi percakapan langsung.
Belum ada tanggal pasti. Anderson Sumarli, CEO dan Co-founder Ajaib Group, hanya menyebut pengembangan masih dalam tahap riset dan pengembangan (R&D). Bentuk produk, cara kerja, hingga jadwal peluncuran belum diungkap ke publik.
Yang jelas, arahnya ke interaksi percakapan. “Anak muda Indonesia akan berbicara langsung dengan duit mereka. Jadi sudah bukan lagi main dengan tombol-tombol, tetapi mereka akan berbicara langsung,” ujar Anderson di kantor pusat Ajaib, Jakarta, Senin (31/8).
Perubahan perilaku generasi muda menjadi pemicu utama. Anderson melihat anak muda kini terbiasa berinteraksi dengan teknologi melalui percakapan, termasuk memakai aplikasi AI seperti ChatGPT dan Claude.
“Kami memang melihat produk kecerdasan buatan atau AI ini adalah masa depan dari jasa keuangan, bukan hanya di Indonesia tetapi di seluruh dunia,” kata Anderson.
Ia membayangkan investor tidak lagi menavigasi menu berlapis, tapi bisa langsung bertanya dan berdiskusi dengan platform soal portofolio atau kondisi pasar.
Sebelum SBI Holdings, Ajaib sudah didukung deretan investor global. Ada Horizons Ventures milik Li Ka-shing yang pernah dinobatkan sebagai orang terkaya di Asia, serta DST Global dan Ribbit Capital—investor di balik Robinhood dan Coinbase.
Kedatangan SBI Holdings terjadi di tengah melesunya pendanaan startup teknologi Indonesia. Berdasarkan catatan Anderson, pendanaan perusahaan teknologi Indonesia sempat mencapai US$ 9,4 miliar pada 2021, lalu menyusut menjadi US$ 340 juta pada 2023.
Pengembangan AI menjadi salah satu prioritas, tapi bukan satu-satunya. Dana dari SBI Holdings juga akan dipakai memperkuat sumber daya manusia dan mengembangkan produk investasi.
Ajaib berencana memperbesar tim di bidang engineering, product, business, dan operations. Saat ini perusahaan memiliki sekitar 700 karyawan.
“Kami ingin merekrut dan membesarkan SDM kami, terutama di bidang teknologi,” ujar Anderson.
Ajaib mencatat sekitar 7 juta akun pengguna saat ini. Lebih dari 80 persen di antaranya disebut sebagai investor pemula dan anak muda. Dalam tiga tahun ke depan, perusahaan ingin jumlahnya nyaris empat kali lipat menjadi 28 juta orang.
“Kami targetnya mau minimal 10% dari penduduk Indonesia. Jadi semoga kita bisa mencapai 28 juta penduduk Indonesia secepatnya,” kata Anderson.
Basis pengguna Ajaib tidak hanya berasal dari kota besar. Platform ini sudah digunakan investor dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk mereka yang baru pertama kali masuk pasar modal.
Selain AI, Ajaib memperluas akses investasi ke luar negeri. Perusahaan sudah membuka pembelian saham Amerika Serikat dan membuka peluang masuk ke pasar modal negara lain.
Langkah ini merespons perubahan karakter investor muda yang semakin global. Anderson menilai generasi muda Indonesia tidak lagi hanya mengikuti perkembangan pasar domestik, tapi juga ekonomi dunia.
“Kami berharap dapat membawa inovasi-inovasi baru seperti itu agar produk-produk di tanah air kami dapat merefleksikan bagaimana anak muda Indonesia berpikir, yaitu sekarang sudah mengglobal,” jelasnya.
Sampai saat ini, Ajaib belum mengumumkan jadwal rilis fitur AI. Yang pasti, pengembangan ini menjadi salah satu prioritas perusahaan setelah pendanaan strategis dari SBI Holdings masuk.