JAWA BARAT — Antam menaikkan harga jual perak batangan di tengah pasar global yang tengah menanti sinyal kebijakan moneter Amerika Serikat. Mengutip laman resmi logammulia.com, harga perak Antam hari ini ditetapkan di level Rp44.150 per gram, naik dari posisi sebelumnya Rp44.000 per gram.
Antam menjual perak batangan ukuran 250 gram dan 500 gram, serta perak butiran murni dengan kadar 99,95 persen. Untuk ukuran 250 gram, Antam membanderolnya di angka Rp11.562.500, sedangkan ukuran 500 gram dipatok Rp22.200.000.
Pergerakan harga perak Antam berbanding terbalik dengan kondisi pasar internasional. Berdasarkan data tradingeconomics.com, harga perak dunia turun 0,45 persen ke posisi US$65,86 per ons. Produk logam mulia ini sempat diperdagangkan di kisaran US$66,4 per ons setelah anjlok lebih dari 4 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.
Pelemahan itu didorong pernyataan bernada hawkish dari Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam pidatonya di Jackson Hole pada Jumat (28/8/2026). Warsh memperingatkan inflasi belum melandai secara signifikan dan menegaskan komitmen bank sentral mengembalikan inflasi ke target 2 persen. Ia juga menilai kondisi keuangan saat ini tidak bersifat restriktif, sehingga membuka ruang pengetatan lebih lanjut.
Pasar merespons cepat pernyataan tersebut. Peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada September kini diperkirakan mencapai sekitar 57 persen, melonjak tajam dari posisi sekitar 40 persen pada pekan sebelumnya. Situasi ini membuat investor mengurangi kepemilikan aset yang tidak memberikan imbal hasil, termasuk logam mulia.
Perak dunia juga masih dibayangi tekanan kenaikan harga minyak menyusul serangan militer AS yang menargetkan peluncur roket Iran di Selat Hormuz. Serangan tersebut merupakan yang pertama dalam lebih dari sebulan terakhir. Meski demikian, secara keseluruhan perak masih mencatatkan kenaikan lebih dari 15 persen sepanjang Agustus.
Di sisi lain, penguatan dolar AS ikut memperberat laju harga logam mulia. Nilai tukar dolar tercatat berada di level tertinggi dalam lebih dari satu minggu. Kondisi ini membuat emas dan perak yang diperdagangkan dalam mata uang AS menjadi semakin mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Para pedagang kini memperkirakan peluang sekitar 56 persen untuk kenaikan suku bunga pada September, naik dari 36 persen sebelum komentar Warsh, serta peluang 80 persen untuk kenaikan pada Desember.
Tekanan serupa juga dialami harga emas. Pada perdagangan Jumat (28/8/2026), harga emas spot turun 2,75 persen menjadi US$4.474,45 per ons. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember juga terpangkas 3 persen ke level US$4.524,10.
Analis independen Tai Wong menilai pernyataan Warsh membuat pasar menilai hasil pertemuan September sebagai situasi yang tidak pasti. "Meskipun pendekatannya mungkin kembali berupa 'bicara lantang namun bertindak terbatas', hal ini membuat pasar menilai hasil pertemuan September sebagai situasi yang tidak pasti, layaknya melempar koin," ujarnya.
Sebelumnya pada Selasa, emas sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan di US$4.696,18. Tren kenaikan itu dipicu pengumuman Departemen Keuangan AS mengenai langkah-langkah dukungan untuk obligasi berdurasi panjang. Kini, sentimen pasar berbalik seiring meningkatnya spekulasi pengetatan moneter yang cenderung mengurangi daya tarik logam mulia karena tidak memberikan imbal hasil.