JAKARTA — Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa 2026 menegaskan komitmennya memutus rantai kemiskinan melalui penguatan kualitas manusia, bukan sekadar bantuan ekonomi jangka pendek. Ketua Pengurus Dompet Dhuafa, Ahmad Juwaini, menuturkan forum ini dirancang untuk dua tujuan utama: meningkatkan kualitas kemerdekaan bangsa dan mengonsolidasikan jaringan alumni beasiswa yang jumlahnya mencapai ribuan orang.
"Kami berkeinginan membuat suatu forum yang memberi kontribusi terhadap peningkatan kualitas kemerdekaan. Karena kita perlu terus memberi sumbangsih terhadap pembangunan Indonesia, perbaikan kehidupan bangsa, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat," ujar Ahmad Juwaini saat membuka kongres, Sabtu (29/8).
Jaringan alumni Dompet Dhuafa disebut memiliki sebaran luas dengan kompetensi beragam. Sebagian dari mereka kini menempati posisi penting di tengah masyarakat — mulai dari akademisi, profesional, hingga penggiat sosial.
"Beberapa di antaranya memiliki posisi-posisi penting di masyarakat, bahkan memiliki kapasitas yang sangat potensial untuk ikut memberi masukan besar terhadap pembangunan bangsa dan perbaikan kualitas program," kata Juwaini.
Sesi diskusi panel pertama mengangkat tema Strengthening Community Well-being for Sustainable Development. Hadir sebagai narasumber, Direktur Potensi dan Sumber Daya Sosial Kemensos RI Salahuddin Yahya; dokter gigi sekaligus influencer drg. M. Atiatul Muktadir; serta Ivan Ahda dari KTM Solution. Diskusi ini menyoroti pentingnya penguatan ketahanan sosial berbasis komunitas sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.
Sementara itu, Pembina Dompet Dhuafa Yudi Latif mengingatkan soal tantangan serius yang masih dihadapi bangsa. Menurutnya, rendahnya kepercayaan dan kesadaran terhadap kemampuan diri sendiri menjadi salah satu persoalan mendasar yang menghambat kemandirian.
Pada sesi kedua bertema Empowered Education, Sovereign Economy, Guru Besar FMIPA UI Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys menegaskan pentingnya penyaluran zakat produktif untuk memicu pemerataan pendidikan. Dengan skema yang ketat dan terukur, dana zakat, infak, dan sedekah dapat menjadi daya dorong nyata dalam memutus rantai kemiskinan lewat jalur pendidikan.
Diskusi ini juga menghadirkan Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dr. Hj. Kurniasih Mufidayati, M.Si., serta Dr. Banu Muhammad H dari FEB Universitas Indonesia. Sesi tersebut menjadi wadah integrasi gagasan yang menghasilkan komitmen kerja sama lanjutan, bukan sekadar pertemuan seremonial.
Mulyadi Saputra menambahkan, model pemberdayaan yang diusung Dompet Dhuafa menempatkan masyarakat sebagai subjek perubahan. Kongres ini menjadi bagian dari ikhtiar memperluas kolaborasi dan memperkuat ekosistem ekonomi produktif dari tingkat akar rumput.