Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) meresmikan Training Center PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di Bandung, Jawa Barat, Sabtu, sekaligus memproyeksikan BUMN tersebut sebagai pusat unggulan (center of excellence) bidang kedirgantaraan nasional. Langkah ini diarahkan untuk menyuplai tenaga ahli bersertifikat yang diakui pasar global, seiring target pemerintah membidik 150.000 peserta magang nasional pada 2026.
BANDUNG — Pelatihan vokasi di PT Dirgantara Indonesia (PTDI) tidak lagi sekadar program internal perusahaan. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) menetapkan fasilitas anyar yang diresmikan di Bandung, Sabtu, sebagai pusat unggulan (center of excellence) nasional untuk rumpun industri kedirgantaraan.
Penetapan ini menempatkan PTDI sebagai rujukan utama penyiapan sumber daya manusia (SDM) bersertifikat, tidak hanya untuk kebutuhan dalam negeri tetapi juga pasar internasional. Targetnya, lulusan dari pusat pelatihan ini memiliki sertifikasi yang diakui secara global, bukan sekadar sertifikat nasional dari BNSP.
Kemenaker dan PTDI menyepakati kuota program magang sebanyak 500 orang dan pelatihan vokasi untuk 1.000 orang sepanjang 2026. Jumlah ini bagian dari target nasional yang diinstruksikan Presiden Prabowo, yakni 150.000 peserta magang dan 300.000 peserta pelatihan vokasi tahun depan.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menjelaskan, program vokasi di PTDI akan diintegrasikan dengan Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bandung. Integrasi ini dirancang menghasilkan lulusan yang mengantongi sertifikasi nasional BNSP sekaligus sertifikat keahlian berstandar internasional.
"Ini agenda kita ke depan itu tadi, globally recognition. Jadi kita sudah mulai mengarahkan SDM Indonesia itu mereka tidak hanya memiliki sertifikasi dari BNSP, tapi kita mengarah kepada global recognition," ujar Yassierli setelah peresmian.
Direktur Utama PTDI Gita Amperiawan menyebut Training Center PTDI memfokuskan pencetakan SDM bersertifikat untuk kebutuhan pasar tier kedua industri aviasi, operator, hingga jasa pemeliharaan pesawat (maintenance, repair, and overhaul/MRO).
PTDI tercatat telah menyelesaikan pelatihan puluhan tenaga ahli spesialisasi manufaktur yang kemudian diberangkatkan ke Korea Selatan. Salah satunya memenuhi permintaan Korea Aerospace Industries (KAI) sebanyak 60 orang dengan spesifikasi keterampilan seperti pengelasan (welding) dan pembentukan logam (metal forming).
Setelah Korsel, PTDI kini menjajaki ekspansi pemenuhan kebutuhan SDM untuk industri MRO di Uni Emirat Arab (UAE).
Dari target 500 kuota magang berdurasi enam bulan pada tahun ini, PTDI telah menyelesaikan 150 peserta. Sisa 350 peserta lainnya akan dituntaskan dengan memanfaatkan fasilitas training center yang baru diresmikan.
Untuk program pelatihan vokasi berdurasi di bawah dua bulan, PTDI bersinergi dengan BBPVP Bandung, Universitas Nurtanio (UNUR), serta Institut Teknologi Bandung (ITB). Sinergi ini untuk menggembleng 1.000 peserta pelatihan dasar hingga tingkat lanjut (advance) yang siap disalurkan ke industri aviasi.
Model center of excellence serupa PTDI ini, menurut Yassierli, nantinya juga dikembangkan di rumpun industri pertambangan, minyak dan gas (migas), hingga teknologi informasi (IT).