DPRD Jabar Dorong Burung Ekek Keling Sunda Jadi Ikon Daerah untuk Selamatkan Satwa Endemik yang Kian Langka

Penulis: Wendra Kusuma  •  Minggu, 30 Agustus 2026 | 00:17:01 WIB
Anggota DPRD Jawa Barat menyampaikan usulan menjadikan burung ekek keling Sunda sebagai ikon daerah untuk meningkatkan perlindungan satwa endemik yang terancam punah.

BANDUNG — Burung Ekek Keling Sunda yang hanya bisa ditemukan di Pulau Jawa bagian barat ini tengah berada di ujung tanduk. Kerusakan habitat dan perburuan liar membuat populasinya menyusut drastis, sehingga DPRD Jawa Barat punya cara unik agar satwa ini tidak dilupakan masyarakat: menjadikannya maskot daerah.

Usulan ini disampaikan langsung oleh Tedy Rusmawan di Bandung, Sabtu (12/4). Ia menilai pengenalan ekek keling sebagai ikon bisa menjadi pintu masuk edukasi publik. "Agar orang punya ingatan terhadap burung yang sudah langka ini, yang harus tadi dijadikan ikon. Mungkin ikon daerah tertentu," kata Tedy.

Bukan Sekadar Maskot, tapi Penanda Habitat Spesifik

Tedy menegaskan pengembangan ikon ini sebaiknya dilakukan dengan pendekatan kewilayahan. Alasannya, burung berekor hijau kebiruan ini memiliki habitat yang sangat spesifik dan tidak menyebar merata di seluruh Jabar.

"Kalau Jawa Barat sudah punya ikonnya, Bogor misalkan. Jadi lebih mendaerah karena itu yang spesifik di situ, di Pangrango," ujarnya merujuk pada kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang selama ini menjadi salah satu kantong populasi utama spesies tersebut.

Larangan Eksploitasi dan Perburuan Harus Diperketat

Selain soal identitas visual, politikus itu mendesak Pemprov Jabar memperkuat perlindungan di lapangan. Ia menyoroti aktivitas komersial yang selama ini diam-diam menggerus populasi burung bernilai jual tinggi di pasar gelap ini.

"Pemerintah provinsi tentu harus tergerak untuk berupaya memberikan perlindungan, terutama dari aktivitas-aktivitas komersial yang mengganggu keberadaan ekek," tegas Tedy.

Penangkaran Masif Digadang Jadi Jurus Selamatkan Populasi

Langkah lanjutan yang tak kalah penting adalah program pengembangbiakan. Tedy mendorong Dinas Kehutanan Jabar berkolaborasi dengan lembaga konservasi dan kebun binatang untuk melakukan penangkaran secara terukur.

"Kenapa tidak untuk dikembangbiakkan secara masif untuk bekerja sama dengan kebun binatang yang ada di Jawa Barat. Jadi Dinas Kehutanan, aktivis lingkungan, WALHI, sehingga ini menemukan pengembangbiakan atau penangkaran untuk menjaga jumlah daripada ekek-ekek yang langka ini," jelasnya.

WALHI Jabar: Populasi Terpantau, tapi Sulit Ditemui

Manager Divisi Pendidikan WALHI Jabar M. Jefry Rohman menyambut baik usulan tersebut. Menurutnya, ikon daerah bukan sekadar simbol, melainkan pengingat bahwa ekosistem tempat burung ini hidup sedang kritis.

"Ini tentu bisa lebih luas berdampak pada situasi dan kondisi lingkungan, termasuk keberadaan hewan ini," kata Jefry.

Jefry membenarkan bahwa ekek keling Sunda masih terpantau di sejumlah kawasan hutan Jabar, namun jumlahnya sangat terbatas. "Kalau di Jawa Barat itu terpantau masih ada beberapa. Hanya sulit kalau kita menjelajah atau observasi, misalnya di Gunung Salak dan Gunung Gede Pangrango. Masih terkadang kita bisa melihat, cuma karena jumlahnya terbatas maka interaksinya susah," ungkapnya.

Dengan status keterancaman yang semakin nyata, menjadikan ekek keling Sunda sebagai maskot dinilai menjadi langkah awal yang murah dan efektif—sebelum akhirnya burung ini benar-benar hanya tinggal nama di buku catatan konservasi.

Reporter: Wendra Kusuma
Sumber: jabar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top