Balai Karantina Jabar Terapkan Teknologi eDNA untuk Deteksi Dini Ikan Invasif, Cegah Kerugian Ekonomi Rp 30 Miliar

Penulis: Uki Damayanti  •  Jumat, 28 Agustus 2026 | 18:26:31 WIB
Balai Karantina Indonesia Jawa Barat menerapkan teknologi eDNA untuk mendeteksi dini jenis asing invasif di perairan umum.

Balai Karantina Indonesia Jawa Barat (Jabar) resmi menginisiasi penerapan teknologi environmental DNA (eDNA) dan metabarcoding untuk mendeteksi dini Jenis Asing Bersifat Invasif (JABI) di perairan umum. Inovasi berbasis jejak genetik ini digadang-gadang mampu menekan potensi kerugian ekonomi global akibat serangan spesies invasif yang nilainya mencapai 30 miliar dolar AS.

BANDUNG — Balai Karantina Indonesia Jawa Barat (Jabar) menginisiasi penerapan teknologi environmental DNA (eDNA) dan metabarcoding guna membaca jejak genetik di medium air. Langkah ini menjadi garda terdepan untuk menyelamatkan perikanan nasional dari ancaman Jenis Asing Bersifat Invasif (JABI) yang menurut data global bisa memicu kerugian ekonomi hingga 30 miliar dolar AS.

Metode deteksi dini berbasis sains molekuler ini secara fundamental menggeser cara kerja konvensional yang selama ini mengandalkan penangkapan fisik spesimen. Pendekatan lama kerap menemui keterbatasan, terutama saat populasi spesies invasif masih sangat minim atau berada di area perairan umum yang sulit dijangkau.

Paradigma Baru Biosekuriti: dari Reaktif Menjadi Prediktif

Kepala Karantina Jawa Barat, Cahyono, menegaskan bahwa inovasi ini menandai pergeseran paradigma biosekuriti perairan Indonesia. Pihaknya tidak lagi harus menangkap fisik ikan untuk mengetahui keberadaan spesies asing, cukup dengan menganalisis sisa jejak genetik yang ditinggalkan organisme di air.

"Melalui pendekatan eDNA, kita tidak lagi harus menangkap fisik ikannya, melainkan membaca jejak genetik yang ditinggalkan oleh organisme tersebut di medium air. Ini adalah bentuk pergeseran paradigma dari biosekuriti reaktif menjadi pencegahan dini (early warning system) berbasis sains molekuler," ujar Cahyono dalam keterangannya di Bandung, Kamis.

Membaca Ratusan Spesies dari Satu Tetes Sampel Air

Penggabungan eDNA dengan teknologi metabarcoding berbasis Next-Generation Sequencing (NGS) memungkinkan petugas laboratorium mengidentifikasi puluhan hingga ratusan jenis biota air secara simultan. Semua itu cukup dilakukan hanya dari satu sampel lingkungan saja.

Sistem tersebut ditargetkan untuk mengawasi jalur-jalur berisiko tinggi. Beberapa di antaranya adalah air pemberat kapal (ballast water) di pelabuhan utama, kompartemen pengangkutan perikanan, hingga sentra akuakultur yang menjadi pintu masuk utama spesies invasif.

Mengapa Deteksi Dini Sangat Krusial?

Pengadopsian teknologi molekuler ini memiliki nilai ekonomis yang amat strategis. Berdasarkan laporan Platform Kebijakan-Ilmu Antarpemerintah tentang Keanekaragaman Hayati dan Jasa Ekosistem (IPBES) tahun 2023, kerugian ekonomi global akibat invasi spesies asing telah menembus angka 423 miliar dolar AS per tahun.

Dengan adanya peringatan dini eDNA sejak fase awal introduksi, biaya penanganan atau eradikasi dampak invasi dapat ditekan hingga lebih dari 80 persen. Angka ini jauh lebih efisien dibandingkan harus mengeluarkan biaya besar untuk memulihkan ekosistem yang sudah terlanjur rusak.

Menuju Kebijakan Berbasis Sains dan Pasar Global

Langkah modernisasi ini sekaligus menyelaraskan biosekuriti Indonesia dengan tren pasar eDNA global yang diproyeksikan melonjak hingga 4,5 miliar dolar AS pada 2030. Penerapan teknologi ini menjadi fondasi kokoh bagi perumusan kebijakan karantina berbasis bukti ilmiah (science-based policy).

Cahyono berharap inovasi ini dapat memperkuat kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Tujuannya demi menjaga kedaulatan biologis serta kelestarian ekosistem akuatik nusantara dari ancaman spesies asing yang merugikan.

Reporter: Uki Damayanti
Sumber: jabar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top