DPRD Sebut Kota Tasikmalaya Darurat Ruang Publik untuk Anak Muda, Kedai Kopi Jadi Alternatif

Penulis: Zaki Mubarak  •  Jumat, 03 Juli 2026 | 19:39:01 WIB
Anak muda Kota Tasikmalaya memanfaatkan kedai kopi sebagai ruang interaksi malam hari.

TASIKMALAYA — Setiap malam, puluhan kedai kopi di Kota Tasikmalaya dipenuhi anak muda. Bukan sekadar nongkrong, aktivitas itu disebut sebagai cerminan kebutuhan mendesak akan ruang publik yang selama ini tak terpenuhi.

“Kalau setiap malam kafe penuh oleh anak muda, jangan buru-buru menyebut itu sekadar budaya nongkrong. Itu menunjukkan kota ini belum menyediakan ruang publik yang benar-benar dibutuhkan mereka,” ujar Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, H. Wahid, kepada Priangan.com, Jumat (3/7/2026).

Ruang Terbuka yang Ada Tak Lagi Memadai

Menurut Wahid, taman kota dan alun-alun yang dimiliki pemerintah belum mampu menjawab kebutuhan generasi muda. Fasilitas pendukung seperti akses internet gratis, area diskusi, hingga tempat nyaman untuk bekerja dan berkolaborasi masih sangat terbatas.

Kondisi itu kemudian dimanfaatkan sektor swasta. Kedai kopi hadir bukan hanya sebagai tempat menjual minuman, tetapi juga mengambil alih fungsi ruang komunal yang seharusnya menjadi bagian dari pelayanan publik.

“Yang berhasil menyediakan ruang interaksi justru pelaku usaha. Mereka menawarkan tempat yang nyaman untuk berdiskusi, bekerja, bertemu komunitas, bahkan melahirkan ide-ide baru,” katanya.

Kedai Kopi: Ruang Intelektual Alternatif

Wahid menilai fungsi coffee shop kini telah berubah drastis. Banyak mahasiswa, komunitas kreatif, hingga pelaku usaha rintisan memanfaatkannya sebagai ruang diskusi, penyusunan program, pengembangan bisnis, hingga membahas berbagai isu sosial dan kebijakan.

“Coffee shop sekarang menjadi ruang intelektual alternatif. Banyak gagasan, kolaborasi, bahkan embrio usaha lahir dari sana. Ini modal sosial yang harus dibaca pemerintah,” ujarnya.

Pemkot Didorong Hadirkan Creative Hub

DPRD mendorong Pemerintah Kota Tasikmalaya mengubah paradigma pembangunan ruang publik. Tidak cukup hanya membangun taman, tetapi juga menghadirkan creative hub yang nyaman, terbuka, dilengkapi akses internet gratis, ruang diskusi, panggung kreativitas, dan fasilitas penunjang lainnya.

Menurut Wahid, investasi pada ruang publik bukan sekadar mempercantik kota. Ini strategi membangun ekosistem kreativitas dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

“Pemerintah harus hadir. Anak muda sudah menunjukkan energi kreatifnya dengan menciptakan ruang sendiri di kafe-kafe. Sekarang giliran pemerintah menyediakan ruang publik yang tidak kalah nyaman agar kreativitas mereka tumbuh tanpa harus selalu bergantung pada ruang komersial,” tegasnya.

Reporter: Zaki Mubarak
Sumber: priangan.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top