KABUPATEN BANDUNG — Sebanyak 612 ribu jiwa pemuda usia 15-24 tahun di Kabupaten Bandung menyimpan potensi besar sebagai garda terdepan mitigasi bencana. Namun di tingkat desa, potensi itu kerap terhambat organisasi kepemudaan yang mati suri.
Fenomena itulah yang ditemukan tim pengabdian masyarakat FISIP Unpas di Desa Rancamulya. Karang Taruna setempat dinilai tidak aktif, partisipasi pemuda dalam agenda desa rendah, dan tak ada sekretariat sebagai ruang legalitas organisasi.
Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang dipimpin Imam Budiman, S.IP., M.IPol. ini dirancang melalui dua jalur utama. Pertama, penguatan kompetensi keorganisasian, mencakup struktur organisasi, penyusunan program kerja, dan mekanisme kaderisasi. Kedua, penguatan kompetensi kepemimpinan, termasuk komunikasi, kerja sama tim, hingga simulasi penanganan bencana.
Metodenya bukan sekadar pelatihan satu arah. Tim pelaksana yang juga melibatkan dosen Drs. Bulbul Abdurachman, S.IP., M.Si. serta tiga mahasiswa—Fahira Yuki Aulia, Naila Essenza Quraniq, dan Talitha Sani Azmi—memberikan bimbingan teknis dan pendampingan langsung di lapangan.
Setelah rangkaian kegiatan, tim mencatat peningkatan signifikan pada dua indikator. Tingkat keorganisasian pemuda naik dari 20 persen menjadi 70 persen. Sementara kompetensi kepemimpinan melonjak dari 30 persen menjadi 80 persen.
Perubahan itu terlihat nyata. Karang Taruna Desa Rancamulya kini mampu menyusun kembali agenda kerja, merumuskan standard operating procedure (SOP) sederhana, dan membangun mekanisme kaderisasi kepemimpinan yang partisipatif—tidak lagi bergantung pada penunjukan dari struktur di atasnya.
Program ini juga mendorong penguatan literasi digital di kalangan pemuda. Mereka dilatih memanfaatkan media sosial untuk edukasi kebencanaan, koordinasi internal, dan penyebaran informasi cepat kepada warga desa.
“Program ini tidak berhenti pada pelatihan satu arah, tetapi diarahkan agar pemuda Desa Rancamulya benar-benar mampu mengelola organisasinya secara mandiri dan berkelanjutan, sekaligus siap berperan aktif dalam kesiapsiagaan bencana di tingkat komunitas,” ujar Imam Budiman.
Tim pelaksana menekankan bahwa hasil program ini perlu dijaga. Pendampingan jangka panjang, keterlibatan pemerintah daerah, program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), serta dukungan komunitas dan media dinilai penting agar penguatan organisasi kepemudaan di Desa Rancamulya bisa terus menjadi ujung tombak kesiapsiagaan bencana berbasis komunitas.
Sebagai luaran akademik, program yang berlangsung selama delapan bulan ini juga menargetkan artikel ilmiah, publikasi di media massa daring, dokumentasi video, serta pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI).