JAWA BARAT — Pengarahan yang dilakukan secara daring itu digelar di tengah jadwal padat anggota parlemen yang baru kembali ke Washington untuk pemungutan suara pukul 18.30 malam. Sejumlah staf Gedung Putih dan pejabat Departemen Luar Negeri juga diperkirakan turut hadir dalam sesi tersebut.
Langkah Rubio ini muncul setelah Amerika Serikat dan Iran sepakat untuk menahan diri—setidaknya untuk saat ini—menyusul serangan yang terjadi pada akhir pekan lalu. Kesepakatan sementara itu, yang disebut-sebut berbentuk nota kesepahaman, masih dalam tahap pembahasan teknis.
Seorang pejabat senior AS mengatakan kepada CNN bahwa pembicaraan teknis berjalan "sesuai rencana" meskipun sempat terjadi baku tembak baru-baru ini. Namun, pernyataan itu kontras dengan pernyataan Kazem Gharibabadi, kepala negosiator Iran, yang menyebut tidak ada pertemuan kelompok kerja teknis yang dijadwalkan untuk minggu ini.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan secara terpisah bahwa pertemuan dengan Iran akan berlangsung di Doha, Qatar pada Selasa (30/6). "Iran telah meminta pertemuan. Pertemuan itu akan berlangsung besok di Doha!" tulis Trump di platform Truth Social, Senin pagi waktu setempat.
Pernyataan Trump itu langsung memicu spekulasi mengenai apakah pertemuan di Doha merupakan kelanjutan dari negosiasi teknis atau sebuah terobosan baru. Hingga saat ini, baik Kementerian Luar Negeri Iran maupun perwakilan AS di Qatar belum memberikan konfirmasi resmi mengenai agenda dan tingkat perwakilan yang akan hadir.
Pengarahan Rubio kepada DPR menjadi krusial karena banyak anggota parlemen yang selama ini mengkritik pendekatan pemerintahan Trump terhadap Iran. Sebagian besar dari mereka baru akan mendengar langsung strategi pemerintah untuk mengakhiri perang—sebuah istilah yang digunakan Gedung Putih untuk menggambarkan konflik berkepanjangan di kawasan.
Sejumlah pengamat menilai pengarahan ini juga bertujuan meredam potensi resistensi dari Kongres, terutama dari kubu yang menginginkan kesepakatan yang lebih ketat dan transparan. "Ini ujian pertama bagi Rubio sebagai menteri luar negeri dalam mengelola komunikasi kebijakan luar negeri yang sensitif di hadapan legislator," ujar seorang analis hubungan internasional yang enggan disebutkan namanya.
Kesepakatan sementara antara AS dan Iran dinilai rentan terhadap eskalasi di lapangan. Baku tembak yang terjadi pada akhir pekan lalu menjadi pengingat bahwa gencatan senjata informal belum sepenuhnya berjalan efektif.
Meski demikian, kedua pihak tetap melanjutkan pembicaraan teknis mengenai nota kesepahaman. Pejabat senior AS menegaskan bahwa kerangka kerja sama tersebut masih dalam proses finalisasi dan belum ada tenggat waktu yang ditetapkan untuk penandatanganan.