SUKABUMI — Proses evakuasi berlangsung dramatis dan melibatkan tim rescue dari dua pos pemadam kebakaran. Komandan Posko V Damkar Cibadak Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Sukabumi, Iyep Yosepa, mengatakan timnya menerima laporan sekitar pukul 14.30 WIB dan langsung meluncur ke lokasi.
"Alhamdulillah dalam waktu sekitar 30 menit korban bisa kita angkat," ujar Iyep.
Korban berhasil dievakuasi dalam keadaan hidup pada pukul 15.25 WIB. Tim memberikan pertolongan pertama berupa bantuan oksigen sebelum membawa Entis ke RSUD Sekarwangi untuk penanganan medis lebih lanjut.
Berdasarkan keterangan P2BK Kecamatan Cibadak, Mawaldi, kejadian bermula sekitar pukul 13.00 WIB. Entis bersama rekannya, Farid, sedang menggali dan memperdalam sumur karena sumber air mulai mengering akibat musim kemarau.
"Sekitar pukul 13.30 WIB, material tanah diangkat dari dasar sumur menggunakan timba dan ember. Namun, karet pengikat timba tiba-tiba putus sehingga ember berisi tanah jatuh dan menimpa kepala atau bahu korban. Entis kemudian tidak sadarkan diri di dalam sumur," kata Mawaldi.
Sekitar pukul 14.00 WIB, tiga warga berinisiatif turun ke dalam sumur untuk memberikan pertolongan. Namun, karena keterbatasan peralatan dan kondisi ruang yang sempit, ketiganya ikut terjebak bersama korban.
Tim rescue dari Pos Damkar Cibadak dan Pos Damkar Parungkuda tiba di lokasi sekitar pukul 14.30 WIB. Iyep menjelaskan bahwa proses penyelamatan cukup sulit karena korban berada di confined space atau ruang terbatas.
"Kami sedikit kesulitan dalam melaksanakan prosedur mengangkat maupun mengikat korban. Tapi kami upayakan sebaik mungkin dan secepat mungkin," katanya.
Dalam penanganan kejadian ini, unsur yang terlibat antara lain Babinsa Koramil 0607-11/Cibadak, Bhabinkamtibmas, P2BK Kecamatan Cibadak, Tagana, Satpol PP Kecamatan Cibadak, perangkat kelurahan, serta warga setempat.
Ketua RW setempat, Kartubi, mengatakan wilayahnya memang kerap mengalami kekeringan saat musim kemarau. Akibatnya, warga sering menggali atau memperdalam sumur untuk mencari sumber air.
"Kalau musim kemarau memang sering terjadi kekeringan di sini. Warga jadi sering menggali sumur mencari sumber air," ujarnya.
Kurtubi mengimbau warga agar lebih berhati-hati ketika melakukan pekerjaan menggali sumur, terutama saat musim kemarau ketika aktivitas tersebut lebih sering dilakukan. Ia menambahkan, berdasarkan informasi yang diterimanya, korban tertimpa ember setelah tali atau pengikat timba putus saat proses pengangkatan material dari dalam sumur.