BRI Manfaatkan Dana SAL Rp400 Triliun untuk Perkuat Pembiayaan UMKM dan Sektor Produktif

Penulis: Uki Damayanti  •  Senin, 29 Juni 2026 | 21:08:31 WIB
BRI siap memanfaatkan dana SAL Rp400 triliun untuk memperkuat pembiayaan UMKM dan sektor produktif.

JAKARTA — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menyatakan kesiapannya memanfaatkan tambahan likuiditas dari penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah untuk menggenjot pembiayaan ke sektor-sektor yang memiliki efek berganda terhadap perekonomian. Direktur Utama BRI Hery Gunardi menegaskan bahwa pihaknya akan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan dana tersebut.

“Kami menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan pemerintah kepada BRI melalui penempatan dana SAL. Kebijakan ini menjadi langkah positif untuk memperkuat likuiditas perbankan sehingga kapasitas intermediasi dalam mendukung pembiayaan sektor-sektor produktif yang menjadi penggerak perekonomian nasional,” ujar Hery dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa.

Fokus pada UMKM dan Sektor Riil

Hingga Maret 2026, total pembiayaan BRI secara bank only tercatat mencapai Rp1.358 triliun. Mayoritas dari jumlah tersebut disalurkan kepada UMKM dan sektor riil. Dengan tambahan likuiditas dari dana SAL, BRI berencana memperkuat kapasitas intermediasi untuk memenuhi permintaan pembiayaan yang sehat dari berbagai sektor ekonomi.

“Kami akan memastikan setiap penyaluran pembiayaan dilakukan secara terukur agar memberikan dampak nyata bagi perekonomian. Fokus BRI ialah pada sektor-sektor produktif yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat daya saing ekonomi nasional,” imbuh Hery.

Distribusi Dana SAL ke Lima Bank BUMN

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan berencana menempatkan dana SAL sebesar Rp400 triliun kepada lima bank BUMN pada Juni 2026. Selain BRI, bank-bank yang menerima alokasi dana tersebut meliputi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN), dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI).

Kebijakan ini dinilai strategis untuk menjaga kecukupan likuiditas sistem perbankan di tengah dinamika perekonomian. Sinergi antara Kementerian Keuangan dan industri perbankan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Strategi Menggenjot Dana Murah

Untuk mengimbangi penyaluran pembiayaan yang agresif, BRI juga akan terus menggenjot perolehan Dana Pihak Ketiga (DPK), khususnya pada pos dana murah atau CASA. Penguatan ekosistem digital Perseroan menjadi salah satu strategi utama untuk menghimpun dana murah dari masyarakat.

“Dengan fundamental yang kuat serta fokus pada UMKM, BRI optimistis dapat terus berkontribusi sebagai penggerak utama ekonomi kerakyatan sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan perekonomian Indonesia,” tutup Hery Gunardi.

Reporter: Uki Damayanti
Sumber: radarsukabumi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top