BOGOR — Perdamaian menjadi titik akhir dari kasus pengeroyokan yang melibatkan sejumlah pelajar di Kota Bogor. Keluarga korban dan pelaku sepakat untuk tidak melanjutkan perkara ke ranah hukum setelah menjalani mediasi yang difasilitasi oleh aparat kepolisian setempat.
Proses mediasi digelar tertutup di Mapolsekta Bogor Tengah beberapa waktu lalu. Pertemuan itu dihadiri oleh orang tua korban, orang tua pelaku, perwakilan sekolah, serta pihak kepolisian sebagai fasilitator.
Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak menyepakati penyelesaian secara kekeluargaan. Kesepakatan itu tertuang dalam surat pernyataan bersama yang ditandatangani oleh kedua keluarga.
Orang tua korban menyatakan telah memaafkan para pelaku. Mereka berharap kejadian serupa tidak terulang kembali dan para pelaku bisa menjalani pembinaan lebih lanjut di lingkungan sekolah maupun keluarga.
“Kami sudah ikhlas. Yang penting anak kami bisa kembali bersekolah dengan tenang. Kami juga berharap anak-anak yang terlibat bisa diberi pembinaan, bukan hukuman,” ujar salah satu anggota keluarga korban dalam keterangan yang diterima redaksi.
Peristiwa pengeroyokan terjadi di lingkungan sekolah di wilayah Bogor Tengah. Aksi kekerasan itu melibatkan sekelompok pelajar yang menyerang korban saat jam istirahat. Insiden sempat terekam kamera ponsel warga dan viral di media sosial.
Menurut informasi yang dihimpun, pemicu pengeroyokan adalah kesalahpahaman antar kelompok pelajar yang sebelumnya sudah memanas. Korban mengalami luka lebam di beberapa bagian tubuh dan sempat menjalani perawatan di puskesmas terdekat.
Pihak kepolisian menyambut baik keputusan damai tersebut. Langkah ini dinilai lebih efektif dibandingkan proses hukum yang panjang, terutama karena para pelaku masih di bawah umur.
“Kami dorong penyelesaian secara restorative justice. Anak-anak ini masih punya masa depan. Yang penting mereka sadar dan tidak mengulangi perbuatannya,” ujar perwakilan Polsekta Bogor Tengah.
Kasus ini kembali membuka diskusi tentang pentingnya pengawasan dan edukasi anti-kekerasan di lingkungan sekolah. Sejumlah pihak menilai sekolah dan orang tua harus lebih aktif membangun komunikasi dengan anak-anak.
Perdamaian memang telah tercapai, tapi persoalan mendasar seperti budaya kekerasan antarpelajar masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Di Kota Bogor sendiri, kasus tawuran dan pengeroyokan pelajar masih kerap muncul meski sudah ada program pembinaan dari dinas pendidikan setempat.