BOGOR — Di tengah hiruk-pikuk pembangunan infrastruktur yang masif di wilayah penyangga Jakarta, muncul sebuah narasi yang mencoba merajut kembali benang merah antara modernitas dan identitas. Kuta Udaya Wangsa, sebuah frasa yang belakangan santer terdengar di kalangan aparatur sipil negara dan perencana kota di Kabupaten Bogor, disebut sebagai roh baru yang akan mengarahkan daerah ini menjadi pusat peradaban Nusantara. Gagasan ini tidak lahir dari ruang rapat tertutup, melainkan dari perenungan panjang Yusfitriadi, seorang pengamat kebijakan publik yang konsisten mendorong pembangunan berbasis kearifan lokal.
Yusfitriadi menjelaskan bahwa Kuta Udaya Wangsa bukanlah sekadar rangkaian aksara Sunda yang indah didengar. "Kuta" merujuk pada benteng atau kota yang kokoh, "Udaya" berarti bangkit atau kejayaan, sementara "Wangsa" bermakna bangsa atau keturunan. Jika ditarik dalam satu tarikan napas, filosofi ini ingin membangun Kabupaten Bogor sebagai benteng peradaban yang bangkit dengan martabat dan harga diri sebagai sebuah bangsa besar.
Menurutnya, spirit ini menjadi krusial di tengah derasnya arus urbanisasi dan modernisasi yang kerap menggerus nilai-nilai lokal. "Kabupaten Bogor tidak boleh hanya menjadi daerah asal atau sekadar tempat transit. Ia harus menjadi tujuan, sebuah pusat peradaban yang maju namun berbudaya," ujarnya dalam sebuah diskusi terbatas.
Penerjemahan Kuta Udaya Wangsa ke dalam kebijakan pembangunan, lanjut Yusfitriadi, tidak boleh berhenti pada pembangunan jalan hotmix, jembatan, atau gedung pemerintahan. Ia mendorong agar setiap proyek infrastruktur yang digelontorkan pemerintah daerah memiliki "jiwa" dan konteks kesejarahan. Misalnya, penataan kawasan alun-alun atau revitalisasi kampung-kampung tua di sekitar Cibinong dan Jonggol harus menyisakan ruang bagi interaksi sosial dan kesenian tradisional.
"Jangan sampai kita bangun pusat perbelanjaan modern, tapi warung kopi di kampung kita mati. Jangan sampai kita bangga dengan jalan tol, tapi gotong royong di RT/RW kita luntur. Itulah esensi dari pusat peradaban yang dimaksud," tegasnya.
Gagasan ini diyakini akan menjadi salah satu pijakan dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bogor ke depan. Yusfitriadi berharap, semangat Kuta Udaya Wangsa tidak hanya menjadi pajangan di spanduk atau kop surat dinas, tetapi benar-benar diinternalisasi oleh setiap perangkat daerah mulai dari tingkat kelurahan hingga kecamatan.
Ia mencontohkan, indikator keberhasilan spirit ini bisa dilihat dari hal-hal sederhana: seberapa banyak musrenbang yang menghasilkan program berbasis budaya, seberapa sering pejabat daerah menggunakan bahasa Sunda dalam forum resmi, dan seberapa bangga warga Bogor mengenalkan kampung halamannya kepada pendatang. "Jika itu terjadi, Kabupaten Bogor tidak hanya menjadi kota satelit Jakarta, tetapi benar-benar menjadi pusat peradaban yang disegani," pungkasnya.