7 Kuliner Khas Bogor yang Sulit Ditemukan di Kota Lain, Dari Laksa Hingga Doclang Jadi Incaran Wisatawan

Penulis: Uki Damayanti  •  Sabtu, 30 Mei 2026 | 16:02:30 WIB
Laksa Bogor dengan kuah santan dan oncom menjadi primadona kuliner khas Kota Hujan.

BOGOR — Di balik julukan Kota Hujan dan deretan destinasi wisata alamnya, Bogor menyimpan kekayaan rasa yang tak lekang waktu. Sejumlah kuliner khas telah bertahan puluhan tahun dan menjadi alasan tersendiri bagi wisatawan untuk datang ke kota ini.

Laksa Bogor: Kuah Santan dan Oncom yang Ikonik

Laksa Bogor menjadi primadona yang paling sering disebut wisatawan. Kuah santan kentalnya berpadu dengan bihun, tauge, dan potongan oncom yang digoreng kering. Yang membedakannya dari laksa daerah lain adalah penggunaan ketupat dan taburan daun kemangi segar.

Hidangan ini biasanya disajikan panas-panas di warung-warung sederhana sekitar Jalan Suryakencana dan kawasan Paledang. Satu porsi Laksa Bogor dibanderol mulai Rp 15 ribu hingga Rp 25 ribu.

Doclang dan Toge Goreng: Dua Rasa yang Saling Melengkapi

Doclang adalah hidangan lontong yang disiram bumbu kacang kental dan kecap manis, mirip dengan kupat tahu namun dengan tekstur lebih lembut. Sementara Toge Goreng Bogor punya ciri khas oncom merah yang dihaluskan sebagai bumbu utama, bukan oncom hitam seperti di daerah lain.

Keduanya sering ditemukan berjualan berdampingan di sepanjang Jalan Dewi Sartika dan kawasan Kebun Raya Bogor. Wisatawan yang baru pertama kali datang biasanya penasaran dengan perpaduan rasa gurih, manis, dan sedikit pedas dari kedua hidangan ini.

Asinan Bogor: Segar dengan Sentuhan Khas

Asinan Bogor berbeda dari asinan Betawi. Bahan utamanya adalah sayuran segar seperti kol, tauge, dan selada yang direndam dalam kuah cuka pedas-manis. Yang membuatnya unik adalah tambahan tahu kuning dan kerupuk mie kuning sebagai pelengkap.

Warung Asinan Bogor legendaris banyak bertebaran di kawasan Pasar Anyar dan Jalan Merdeka. Harganya pun ramah di kantong, mulai Rp 10 ribu per porsi.

Bir Pletok: Minuman Rempah Warisan Betawi-Bogor

Meski namanya bir, minuman ini sama sekali tidak mengandung alkohol. Bir Pletok terbuat dari campuran jahe, serai, kayu manis, dan gula merah yang direbus hingga mendidih. Rasanya hangat dan pedas, cocok diminum saat cuaca dingin di Bogor.

Minuman ini biasanya dijual di warung-warung pinggir jalan dan pusat oleh-oleh di kawasan Cimahpar dan Cilebut. Satu botol berukuran 600 ml dijual sekitar Rp 15 ribu.

Roti Unyil dan Talas Bogor: Oleh-Oleh Wajib

Roti Unyil, roti mini dengan berbagai isian seperti cokelat, keju, dan abon, telah menjadi ikon oleh-oleh Bogor sejak era 1990-an. Toko roti unyil legendaris seperti Merdeka dan Karika berjejer di sepanjang Jalan Merdeka dan Siliwangi.

Talas Bogor juga tak kalah populer. Olahan talas seperti kue talas, dodol talas, dan talas goreng menjadi buah tangan yang paling banyak dicari wisatawan. Harganya bervariasi, mulai Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu per kemasan.

Kuliner Malam: Sate dan Mi Kocok

Sate Bogor memiliki ciri khas bumbu kacang yang lebih kental dan manis dibanding sate daerah lain. Biasanya disajikan dengan lontong dan acar mentimun. Mi Kocok Bogor, dengan kuah kaldu sapi yang gurih dan potongan kikil, juga menjadi favorit saat malam hari.

Kedua hidangan ini banyak ditemukan di kawasan Jalan Padjajaran dan kawasan Botani Square. Harganya terjangkau, mulai Rp 20 ribu per porsi.

Bagi wisatawan yang ingin mencicipi langsung, waktu terbaik untuk berburu kuliner khas Bogor adalah pagi hingga siang hari, terutama di akhir pekan. Sebagian besar warung legendaris tutup pukul 16.00 WIB karena kehabisan stok. Kota Hujan memang tidak pernah kehabisan cerita—termasuk soal rasa.

Reporter: Uki Damayanti
Sumber: radarbogor.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top