BANDUNG — Musyawarah Provinsi (Musprov) XII Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Jawa Barat resmi menetapkan H. Phinera Wijaya, S.E., untuk melanjutkan kepemimpinannya selama empat tahun ke depan. Dalam sidang yang berlangsung di Hotel Savoy Homann, Sabtu (2/5/2026), seluruh utusan perguruan dan IPSI kabupaten/kota sepakat memilih kembali sosok yang akrab disapa Kang Icak tersebut secara aklamasi.
Keputusan ini didasari atas rapor hijau prestasi pencak silat Jawa Barat di level nasional maupun internasional selama periode sebelumnya. Di bawah komando Phinera, Jawa Barat berhasil mencatatkan sejarah dengan meraih predikat juara umum atau hattrick pada PON 2016 Jawa Barat, PON 2021 Papua, dan PON XXI Aceh-Sumut 2024.
"Alhamdulillah, saya sangat berterima kasih atas semua dukungan yang telah diberikan. Ini adalah amanah luar biasa dan kepercayaan masyarakat Jawa Barat," ujar Phinera Wijaya usai penetapan dirinya sebagai ketua umum terpilih.
Meski kembali memimpin, Phinera mengakui tantangan ke depan tidaklah mudah. Kondisi ekonomi nasional yang dinamis memicu terjadinya efisiensi anggaran di berbagai sektor, termasuk olahraga. Kebijakan refocusing anggaran diprediksi akan berdampak langsung pada pola pembinaan atlet di daerah.
"Kita jujur saja, dengan kondisi nasional saat ini yang dirasa kurang baik-baik saja, pasti berdampak. Namun, kami optimis pencak silat Jabar tetap mampu menjaga tradisi juara," tutur Kang Icak.
Ia menegaskan bahwa Jawa Barat harus tetap menjadi barometer pencak silat nasional. Untuk itu, Phinera membidik target ambisius yakni meraih gelar juara umum untuk keempat kalinya secara beruntun atau quatrick pada PON XXII NTB-NTT 2028 mendatang.
"Diperlukan pengurus yang kredibel, memiliki loyalitas, dan komitmen kuat untuk memajukan pencak silat Jawa Barat. Kesuksesan ini adalah keberhasilan kolektif dari atlet, pelatih, hingga seluruh jajaran pengurus," tambahnya.
Apresiasi tinggi datang dari pengurus pusat. Benny G. Sumarsono, utusan PB IPSI yang mewakili Ketua Umum H. Sugiono, menyebut kepemimpinan Phinera Wijaya dan Sekretaris Yusuf Munawar telah membawa perubahan signifikan bagi infrastruktur olahraga di Jawa Barat.
Salah satu pencapaian monumental adalah pembangunan Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) atau Padepokan Pencak Silat Jabar di Kiara Payung, Jatinangor, Sumedang. Fasilitas yang berdiri di atas lahan seluas 8 hektare tersebut menelan anggaran sekitar Rp45 miliar.
"Hanya IPSI Jabar yang baru mempunyai padepokan sendiri selain TMII di seluruh Indonesia. Jabar harus bersyukur punya Kang Icak yang mampu bersaing dan berprestasi," ungkap Benny Sumarsono.
Selain dominasi di ajang PON, IPSI Jawa Barat tercatat sebagai penyumbang atlet nasional terbesar bagi Indonesia pada Asian Games 2018. Atlet-atlet Jabar juga konsisten menyumbangkan medali emas dalam ajang Sea Games di Vietnam, Kamboja, hingga Thailand, serta Kejuaraan Dunia di Malaysia dan Dubai.
Di sisi inovasi organisasi, IPSI Jabar mempelopori lahirnya Pencak Silat Militer (PSM) melalui kolaborasi dengan Kodam III Siliwangi dan Disjas TNI AD. Kerja sama ini melahirkan Kejuaraan Terbuka Pencak Silat Piala KASAD yang kini menjadi agenda rutin nasional.
Langkah strategis lainnya mencakup pengiriman pelatih-pelatih terbaik ke luar negeri, seperti Jepang dan Uzbekistan. Program ini merupakan bagian dari dukungan terhadap agenda Road To Olympic guna membawa pencak silat semakin dikenal di panggung dunia.