JAWA BARAT — Film drama era Apartheid berjudul The Smell of Apples telah mengamankan distribusinya di Prancis jauh sebelum penonton dunia melihatnya. ARP Sélection, perusahaan distribusi berbasis di Paris, resmi mengakuisisi hak tayang untuk pasar Prancis dari tangan Cercamon yang menangani penjualan internasional.
Kesepakatan ini diumumkan menjelang premier dunia film tersebut di Toronto International Film Festival (TIFF). The Smell of Apples dijadwalkan tayang perdana di seksi kompetisi Platform, salah satu bagian bergengsi yang menampilkan karya-karya sutradara dengan visi artistik kuat.
Sinopsis dan Latar Belakang Film
The Smell of Apples diadaptasi dari novel laris karya Mark Behr yang terbit pada 1993. Buku tersebut masuk dalam nominasi Booker Prize dan dikenal luas karena keberaniannya mengangkat sisi gelap kehidupan keluarga kulit putih di Afrika Selatan.
Ceritanya mengikuti seorang anak laki-laki yang tumbuh di lingkungan "utopia kulit putih" di Cape Town pada dekade 1970-an. Periode itu bertepatan dengan puncak kebijakan pemisahan ras yang diterapkan rezim Apartheid.
Di permukaan, keluarga tokoh utama tampak menjalani hidup yang nyaman dan penuh keberuntungan. Namun drama keluarga yang rumit ini perlahan mengungkap kekejaman yang tersembunyi di balik fasad kehidupan idilis tersebut.
Respons Distributor dan Penjual Hak Internasional
Michéle Halberstadt, salah satu pendiri dan pimpinan ARP Sélection, menyampaikan alasan di balik keputusan perusahaannya membeli hak distribusi film ini.
"Kami sangat tersentuh dan terkesan dengan kekuatan, daya emosional, dan keindahan film ini," ujar Halberstadt.
ARP Sélection sendiri memiliki jadwal rilis yang padat, termasuk sejumlah judul yang juga tayang di TIFF seperti Le Faux Soir karya Michaël R. Roskam dan We Are All Strangers arahan Anthony Chen. Langkah mereka mengakuisisi The Smell of Apples menegaskan posisi perusahaan itu sebagai pemain aktif di pasar film festival.
Dari sisi penjual, Sebastien Chesneau dari Cercamon menyebut pasar Prancis punya arti khusus bagi film ini.
"Prancis memiliki tempat istimewa dalam sinema internasional, dan membawa The Smell of Apples ke penonton Prancis adalah tonggak penting bagi kami," kata Chesneau. "Kami senang ARP bergabung: antusiasme mereka terhadap film ini membuat kemitraan ini sangat menarik, dan kami menantikan kerja sama untuk perilisan di Prancis."
Rekam Jejak Sutradara John Trengove
John Trengove bukan nama baru di industri film internasional. Film sebelumnya, The Wound (2017), masuk dalam daftar panjang nominasi Academy Awards sebagai perwakilan Afrika Selatan di kategori Best Foreign Language Film pada 2018.
Ia juga menyutradarai Manodrome, drama bertema maskulinitas toksik yang dibintangi Jesse Eisenberg dan Adrien Brody. Kedua proyek itu menunjukkan minat Trengove pada cerita-cerita yang mengupas sisi gelap identitas dan kekuasaan.
The Smell of Apples diproduksi oleh Eric Abraham, Jack Sidey dari Portobello Productions, Cait Pansegrouw dari Cadence, dan Frank Hoeve dari BALDR Films. Ini menjadi film Afrika Selatan kedua yang diproduksi Abraham dan Sidey, setelah keduanya terlibat dalam film pemenang Academy Award seperti Kolya dan Ida.
Langkah Selanjutnya
Setelah premier dunia di TIFF, The Smell of Apples akan menghadapi pasar festival internasional dengan modal distribusi Prancis yang sudah aman. Kesepakatan awal ini memberi sinyal bahwa film tersebut punya daya tarik komersial di pasar Eropa.
Bagi penonton Indonesia, peluang film ini tayang di bioskop lokal masih terbuka lebar. Namun hingga kini belum ada informasi resmi soal distributor untuk kawasan Asia Tenggara.
Kehadiran The Smell of Apples di TIFF memperkuat posisi sinema Afrika Selatan di peta film dunia, sekaligus menandai bahwa cerita-cerita bertema sejarah kelam masih menemukan ruang di pasar distribusi global.