Lamongan – Langkah lanjutan penanganan kekeringan di areal persawahan Daerah Irigasi (DI) Bengawan Jero, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, bakal kembali digeber pada Senin (24/8). Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo memastikan normalisasi Sungai Deket dan pemompaan air dari Sungai Bengawan Solo ke Sungai Blawi akan diteruskan demi menuntaskan suplai air bagi lahan yang masih kering.
Sejauh ini, dari total areal persawahan seluas 539,80 hektare yang terdampak kekeringan di DI Bengawan Jero, sekitar 426,80 hektare telah berhasil terairi. Masih ada sekitar 113 hektare sawah di bagian hilir yang belum mendapatkan pasokan air. Hal itu disampaikan Kepala BBWS Bengawan Solo Gatut Bayuadji dalam keterangannya, Minggu (23/8).
“Dari total areal persawahan seluas 539,80 hektare yang terdampak kekeringan di DI Bengawan Jero, hingga saat ini sekitar 426,80 hektare telah berhasil terairi. Saat ini, masih terdapat sekitar 113 hektare sawah di bagian hilir yang belum mendapatkan suplai air. Senin (24/8) pelaksanaan normalisasi Sungai Deket dan pemompaan air dari Sungai Bengawan Solo ke Sungai Blawi akan dilanjutkan kembali,” jelas Gatut.
Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, menegaskan komitmennya mempercepat respons atas kekeringan yang melanda kawasan persawahan di DI Bengawan Jero. Melalui BBWS Bengawan Solo, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian PU telah menuntaskan normalisasi sungai dan pembuatan alur air sepanjang 1.670 meter pada hari yang sama.
Sejumlah alat berat dikerahkan ke lokasi untuk mempercepat distribusi air. Selain itu, pompa tambahan disiagakan guna menaikkan debit dan melancarkan suplai air ke jaringan irigasi yang melayani petani setempat.
Menteri Dody mengatakan, Kementerian PU terus memperkuat kesiapsiagaan dan respons terhadap dampak kekeringan, termasuk melalui optimalisasi sumber daya air yang tersedia untuk menjaga keberlanjutan layanan irigasi bagi masyarakat.
“Air merupakan fondasi penting bagi pembangunan berkelanjutan. Karena itu, penanganan kekeringan harus dilakukan secara cepat, terukur, dan terpadu, termasuk dengan mengoptimalkan infrastruktur sumber daya air agar air yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” kata Menteri Dody.
Penanganan kekeringan di DI Bengawan Jero difokuskan pada normalisasi Sungai Deket atau anak Sungai Blawi, Sungai Corong, dan Sungai Malang. Pembukaan alur sungai bertujuan memperlancar aliran air dari Sungai Blawi sehingga bisa dimanfaatkan untuk pemompaan menuju jaringan irigasi. Dengan begitu, areal persawahan di Desa Soko, Kecamatan Glagah, serta Desa Ketapangtelu, Kecamatan Karangbinangun, Kabupaten Lamongan, dapat terairi.
Sebanyak 3 unit excavator amphibi telah dikerahkan untuk normalisasi aliran Sungai Deket, bersamaan dengan dioperasikannya 1 unit excavator amphibi milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Secara kumulatif, pembuatan alur air dan normalisasi sungai telah mencapai sekitar 1.670 meter. Untuk mendongkrak debit air, Kementerian PU juga memobilisasi 2 unit mobile pump ke Pintu Melik II, serta 3 unit pompa Alkon berukuran 6 inci dan 3 unit berukuran 3 inci. Pemompaan memanfaatkan sumber air dari Sungai Blawi dan Sungai Bengawan Solo.
Rencananya, Kementerian PU bakal melanjutkan normalisasi Sungai Deket dan pemompaan air dari Sungai Bengawan Solo menuju Sungai Blawi. Pembuatan alur sungai juga akan diteruskan sesuai permohonan Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air (IP3A) dengan panjang sekitar 4 km demi memperlancar distribusi air ke wilayah persawahan. Melalui upaya tersebut, Kementerian PU akan terus memastikan infrastruktur sumber daya air tetap berfungsi optimal di tengah kondisi kekeringan, sekaligus mendukung keberlanjutan layanan irigasi dalam mendukung swasembada pangan.