MAJALENGKA — Pengelola Situ Cipanten, Yosep Hendrawan, mengungkap mekanisme di balik perubahan warna danau alami yang menjadi destinasi wisata favorit keluarga di wilayah timur Jawa Barat tersebut. Menurutnya, kunci dari fenomena ini terletak pada tujuh mata air yang menjadi sumber utama pasokan air danau.
Mengapa Air Bisa Berubah Drastis?
Saat musim hujan, debit air dari ketujuh mata air meningkat drastis. Arus yang deras ini menyapu bersih lumut dan plankton yang biasanya menempel di dasar danau.
"Ketika musim hujan debit air cukup deras sehingga lumut dan plankton terbawa arus. Akibatnya air menjadi sangat jernih dan dasar danau bisa terlihat dengan jelas," ujar Yosep kepada Radar Cirebon.
Kondisi ini membuat Situ Cipanten kerap dijuluki sebagai danau kaca. Pengunjung bisa melihat bebatuan di dasar danau serta ribuan ikan yang berenang bebas di bawah permukaan air yang bening.
Wajah Kedua: Hijau Alami di Musim Kemarau
Sebaliknya, saat musim kemarau tiba, debit air dari mata air tetap mengalir namun arusnya tidak sekencang saat penghujan. Lumut dan plankton pun kembali tumbuh dan mengendap, mengubah warna air menjadi hijau alami.
Panorama hijau ini justru menghadirkan daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang di musim berbeda. Banyak pengunjung sengaja datang dua kali, saat hujan dan kemarau, untuk menyaksikan langsung kontrasnya dua wajah danau tersebut.
Destinasi Unggulan yang Terus Dijaga
Yosep menegaskan bahwa perubahan warna ini adalah karakter khas Situ Cipanten yang sudah berlangsung puluhan tahun dan bukan indikasi pencemaran lingkungan. Pihak pengelola rutin memantau kualitas air untuk memastikan ekosistem danau tetap sehat.
Sebagai salah satu destinasi unggulan di Majalengka, Situ Cipanten menawarkan pengalaman wisata alam yang edukatif. Pengunjung tidak hanya menikmati pemandangan, tetapi juga belajar tentang siklus alam yang dinamis dan unik.