BANDUNG BARAT — Pemandangan di Stone Garden Citatah langsung menyapa pengunjung begitu kaki melangkah masuk. Bongkahan batu kapur raksasa berdiri tegak, membentuk labirin alami di atas lahan seluas puluhan hektare. Angin berhembus di antara celah-celah bebatuan, membawa aroma tanah kering khas perbukitan karst.
Kawasan ini bukan hanya soal estetika. Formasi batuan di Stone Garden merupakan bagian dari Situs Citatah, salah satu lokasi penelitian arkeologi penting di Jawa Barat. Peneliti menemukan sejumlah fosil dan artefak yang mengindikasikan adanya kehidupan manusia purba di wilayah ini ribuan tahun lalu.
Bagi yang datang, ada sensasi tersendiri saat berjalan di antara bebatuan. Seolah menyusuri lorong waktu, membayangkan bagaimana manusia purba dulu bertahan di tengah hutan batu ini. Pemandu lokal kerap bercerita tentang sejarah kawasan yang dulu merupakan dasar laut purba.
Stone Garden sempat menjadi tempat yang jarang tersentuh. Akses jalannya terbilang menantang, dan belum banyak promosi. Namun belakangan, unggahan foto di media sosial perlahan mengubah wajah destinasi ini. Akhir pekan, pengunjung mulai berdatangan – ada yang sekadar berfoto, ada pula yang datang untuk penelitian atau tugas sekolah.
Seorang pengunjung asal Cimahi mengaku baru pertama kali datang. “Saya kira ini cuma batu biasa. Ternyata luas dan unik banget. Cocok buat healing sambil belajar sejarah,” katanya saat ditemui di lokasi.
Lokasi ini berada di Kampung Gunung Masigit, Desa Citatah, Kecamatan Padalarang. Dari pusat Kota Bandung, perjalanan memakan waktu sekitar 45 menit hingga satu jam. Jalurnya cukup terjal di beberapa titik, jadi kendaraan pribadi dengan ground clearance tinggi lebih disarankan.
Tidak ada tiket masuk resmi yang mahal. Pengunjung cukup membayar retribusi parkir dan biaya kebersihan yang dikelola warga setempat. Belum ada fasilitas memadai seperti toilet umum atau warung makan di dalam area, sehingga pengunjung disarankan membawa bekal sendiri.
Mulai ramainya Stone Garden membawa angin segar bagi warga Kampung Gunung Masigit. Sebagian warga kini membuka lapak kecil menjual minuman ringan dan camilan. Ada juga yang menawarkan jasa parkir dan pemandu wisata.
“Dulu sepi, sekarang lumayan ada tambahan. Tapi kami juga khawatir kalau nanti terlalu ramai, sampah jadi masalah,” ujar seorang warga setempat yang enggan disebut namanya.
Pemerintah Desa Citatah disebut tengah menyusun rencana pengelolaan wisata yang lebih terstruktur. Harapannya, Stone Garden tidak hanya menjadi tempat selfie, tetapi juga pusat edukasi geologi dan arkeologi yang dikelola secara berkelanjutan.