KARAWANG — Nama Diqi Hadiq mungkin belum setenar mahasiswa berprestasi lainnya. Namun, pemuda asal Karawang ini baru saja menorehkan pencapaian yang jarang terjadi: lulus cumlaude dalam waktu 3 tahun 3 bulan tanpa skripsi, sambil bekerja dan aktif di dua organisasi sekaligus.
Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional UMY itu resmi diwisuda pada 10 Juni 2025. Ia tidak melewati jalur skripsi konvensional. Sebagai gantinya, artikel ilmiahnya yang berjudul The Role Of OCCRP’s Soft Power In Framing President Joko Widodo Leadership On Corruption diterbitkan di jurnal nasional berindeks SINTA 2.
Kebijakan kampus memungkinkan mahasiswa mengganti tugas akhir dengan publikasi ilmiah. Diqi memanfaatkan celah itu. Ia menulis artikel tentang cara Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP), jaringan media investigasi transnasional, mengkonstruksi narasi kepemimpinan Presiden Joko Widodo dalam isu korupsi.
Naskahnya selesai dalam waktu dua minggu. Proses penerbitan hingga terindeks SINTA 2 justru memakan waktu lebih lama. “Nulis jurnalnya sendiri cuma dua minggu, yang lama justru proses terbit naskahnya,” kata Diqi.
Selama kuliah, Diqi tidak hanya duduk di bangku kelas. Ia bekerja serabutan untuk membiayai hidup sebagai perantau: menjadi freelance web developer, graphic designer, barista, hingga tutor bahasa Inggris secara daring. Tak berhenti di situ, ia merintis Rebel Shoes Clean, usaha perawatan dan kustomisasi sepatu yang telah melayani lebih dari 500 pelanggan.
Di luar pekerjaan, ia menjabat sebagai Ketua Keluarga Karawang Yogyakarta (KKY) periode 2023-2024 dan aktif sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Dua organisasi itu dijalaninya bersamaan dengan kuliah dan kerja.
Secara teknis, tugas akhir Diqi sudah tuntas sejak semester 6. Namun, UMY baru mengizinkan pendaftaran wisuda di semester 7. Dua semester terakhir ia habiskan tanpa kewajiban akademik, sementara teman-temannya berjibaku dengan skripsi. “Sekarang saya lagi nyusun jurnal lagi, dan ternyata gampang. Kadang kita bilang sulit padahal belum dikerjain,” ujarnya.
Diqi membuktikan bahwa aktif organisasi dan bekerja tidak selalu menjadi alasan mundurnya kelulusan. Ia menjalani semuanya sekaligus dan lulus lebih cepat dari batas normal, dengan predikat cumlaude pula.