JAWA BARAT — Data operasional nyata dari lapangan ini diungkap langsung oleh Ross Linton, pemilik Etrucks New Zealand, distributor utama truk listrik dan alat berat asal China di negara tersebut. Dalam unggahan LinkedIn-nya, Linton menjabarkan performa tujuh unit XCMG Group BEV yang disewakan ke berbagai proyek.
“Ketujuh loader 20-ton ini beroperasi total 17.370 jam dengan konsumsi listrik 412.000 kWh. Artinya, 23,7 kWh per jam. Dengan tarif NZ$0,30 per kWh, biayanya cuma NZ$7,11 per jam,” tulis Linton. Angka itu setara US$4,13 atau sekitar Rp 66.000 jika pakai kurs dolar AS.
Namun, potensi penghematan bisa lebih gila lagi. Jika pengisian baterai dilakukan pada malam hari atau jam off-peak, tarif listrik bisa turun separuhnya. Artinya, biaya operasional per jam bisa ditekan hingga US$2 atau sekitar Rp 32.000.
Sebagai perbandingan, kompetitor langsung XCMG di kelas 20 ton, Caterpillar 966, diperkirakan membakar 4 hingga 10 galon solar per jam — tergantung jenis pekerjaan dan sumber data. Dengan harga solar merah (red dye diesel) rata-rata US$5,60 per galon saat ini, biaya bahan bakar CAT 966 mencapai US$20 hingga US$50 per jam.
Artinya, biaya energi loader listrik XCMG hanya seperlima hingga sepersepuluh dari biaya solar loader diesel setara. Angka ini belum termasuk penghematan dari perawatan mesin listrik yang lebih sederhana—tanpa filter solar, oli mesin, atau injector yang perlu diganti berkala.
Meski data ini berasal dari Selandia Baru, relevansinya untuk pasar alat berat Indonesia cukup kuat. Sektor pertambangan dan konstruksi nasional masih sangat bergantung pada alat berat diesel. Namun, adopsi alat berat listrik seperti XCMG ini masih terganjal infrastruktur pengisian daya dan harga listrik industri yang belum kompetitif di semua wilayah.
Belum ada distributor resmi XCMG yang mengumumkan kehadiran wheel loader listrik 20 ton untuk pasar Indonesia. Namun, dengan tren elektrifikasi alat berat yang mulai digaungkan oleh berbagai merek global, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan operator tambang di Kalimantan atau Sulawesi bisa menikmati efisiensi biaya energi yang serupa.