Pemkot Bandung Gulirkan Program Padat Karya Serap 8.600 Tenaga Kerja, Fokus Kebersihan Lingkungan

Penulis: Uki Damayanti  •  Kamis, 11 Juni 2026 | 02:43:01 WIB
Wali Kota Bandung luncurkan program padat karya serap 8.600 tenaga kerja fokus kebersihan lingkungan.

BANDUNG — Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan bahwa program padat karya yang baru digulirkan bukan sekadar proyek pekerjaan sementara, melainkan bagian dari strategi menjaga stabilitas ekonomi warga di tengah tingginya angka pengangguran.

“Program ini memang tidak memberikan pekerjaan permanen, tapi sangat penting untuk memberikan penghasilan sementara bagi warga yang belum bekerja. Ini bentuk kepedulian kami terhadap masyarakat,” kata Farhan dalam keterangan resmi yang diterima di Bandung, Rabu.

Fokus pada Kebersihan Lingkungan Permukiman

Farhan menjelaskan, program padat karya tematik tahun ini secara spesifik diarahkan pada kegiatan kebersihan lingkungan pemukiman. Langkah ini dipilih agar selain memberikan penghasilan, program tersebut juga berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat.

“Selain membantu warga memperoleh penghasilan, program tersebut diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan nyaman bagi masyarakat,” ujarnya.

Angka Pengangguran Masih 7,2 Persen

Kota Bandung saat ini masih menghadapi tantangan pengangguran dengan tingkat pengangguran terbuka yang tercatat di kisaran 7,2 persen. Angka ini menjadi latar belakang Pemkot untuk terus mengembangkan strategi perluasan akses pekerjaan.

Pemerintah tidak hanya mengandalkan program padat karya. Farhan menyebut pihaknya juga menyediakan layanan informasi lowongan kerja, baik secara daring maupun luring, untuk menjembatani pencari kerja dengan dunia usaha.

“Pemerintah tidak hanya menyediakan pekerjaan, tetapi juga menyediakan akses dan informasi pekerjaan. Kami ingin menjadi penghubung antara pencari kerja dan dunia usaha, sehingga peluang kerja semakin terbuka,” katanya.

Penghasilan Sementara untuk Kepala Keluarga

Farhan berharap program ini bisa menjadi penggerak roda ekonomi dan solusi sementara yang berdampak nyata bagi masyarakat. Ia menekankan bahwa penghidupan yang layak adalah hak bagi siapa pun yang sedang berjuang, bukan hanya untuk pria kepala keluarga.

“Memberikan penghidupan yang layak adalah kewajiban kita bersama. Bukan hanya untuk pria kepala keluarga, tapi untuk siapa pun yang sedang berjuang demi penghasilan bagi keluarganya,” kata dia.

Reporter: Uki Damayanti
Back to top