Desa Ciheras dikenal sebagai salah satu wilayah pesisir paling rentan di Tasikmalaya terhadap pengikisan akibat hantaman gelombang laut. HIMAGEO Unsil memilih cemara pantai (Casuarina equisetifolia) sebagai vegetasi utama karena akarnya yang kuat mampu mengikat pasir dan tanah secara alami.
Pohon cemara pantai tidak sekadar penghias bibir pantai. Secara ekologis, tanaman ini memiliki tiga fungsi strategis:
"Aksi ini bukan sekadar formalitas atau kegiatan seremonial. Ini langkah awal membangun kesadaran kolektif. Menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama yang butuh aksi nyata, bukan wacana," tegas Ketua HIMAGEO Unsil Dadang Setia Permana.
HIMAGEO memberikan kontribusi ilmiah yang konkret. Mereka menyerahkan Peta Perubahan Garis Pantai Desa Ciheras kepada pemerintah desa. Peta ini menggambarkan dinamika maju-mundurnya garis pantai dalam beberapa tahun terakhir akibat abrasi.
Data spasial tersebut menjadi acuan perangkat desa dalam mengambil kebijakan tata ruang pesisir dan memetakan zona merah rawan bencana. "Setiap bibit cemara pantai yang ditanam hari ini, serta setiap lembar data spasial yang dibagikan, adalah investasi demi masa depan yang lebih hijau dan tangguh," pungkas Dadang.
HIMAGEO sadar bahwa menanam pohon saja tidak cukup tanpa mengubah pola pikir. Kegiatan ini diisi sesi edukasi interaktif tentang bahaya abrasi, pentingnya menjaga vegetasi pesisir, serta langkah mitigasi bencana sederhana yang bisa diterapkan warga sehari-hari.
Kolaborasi antara mahasiswa, warga Desa Ciheras, pemerintah desa, dan pegiat lingkungan menjadi bukti bahwa sinergi lintas sektor adalah kunci menghadapi krisis iklim. Melalui tema "Hijaukan Negeri, Selamatkan Generasi", HIMAGEO berharap aksi ini menjadi gerakan berkelanjutan, bukan sekadar seremoni tahunan.